Berangkat dari dorongan hati menjaga kesucian rumah ibadah, sejumlah anak muda di Gunungkidul melebur dalam Komunitas Lare Masjid. Aktivitas mereka mencari masjid dan siap membersihkannya tanpa berharap imbalan.

GUNAWAN, Gunungkidul

KOMUNITAS Lare Masjid terbentuk pada 19 September 2017. Digawangi Suharyanto, warga Selang, Wonosari, komunitas ini mengkoordinasikan remaja untuk turun gunung aktif dalam kegiatan sosial keagamaan, yakni membersihkan lingkungan masjid.

“Komunitas Lare Masjid pada awalnya beranggotakan karyawan perusahaan percetakan Kamajaya Kreasindo beralamatkan di Jalan Mgr Sugiyo Pranoto No 69, Baleharjo, Wonosari,” kata Suharyanto, sang penggagas, kepada Radar Jogja akhir pekan lalu.

Dalam perkembangannya, merekrut anggota dari luar perusahaan. Melalui media sosial pihaknya rajin memposting kegiatan bersih-bersih masjid. Dalam postingannya, memperlihatkan aktivitas anak-anak muda dengan riang gembira membersihkan lingkungan masjid.

“Harapan kami, postingan itu memantik warganet untuk bergabung secara langsung dalam kegiatan di lapangan,” ujarnya. Suharyanto sendiri merupakan pembina dalam komunitas itu.

Tugas dan tanggung jawab yang diemban tidak ringan tentu saja. Dia sadar, niat baik juga ada rintangan, sehingga masing-masing anggota juga harus saling menguatkan.

“Kepada anggota, saya selalu ingatkan dengan kata-kata inspiratif. Misalnya saat membersihkan masjid anggap saja itu membersihkan dosa para anggota juga,” ujarnya.

Bagaimana awal mula komunitas ini memulai aktivitas membersihkan rumah ibadah? Kata dia, di 2017 teman-teman merespons iklim positif dunia pariwisata. Kebiasaan wisatawan beribadah di masjid sekaligus istirahat sejenak, menjadi target khusus. Waktu itu jumlah anggota dapat dihitung dengan jari. “Selain tenaga, kami juga siap dengan peralatan. Pengurus masjid atau takmir terima beres pokoknya,” ucapnya.

Memasuki tahun ketiga, anggota komunitas terus bertambah. Saat ini peserta aktif tercatat 20 orang. Terdiri atas laki-laki dan perempuan. Pihaknya terus menggencarkan promosi mengenai aktivitas Lare Masjid. “Selama ini penyandang dana dari perusahaan percetakan,” ujarnya.

Bagaimana jika job bersih-bersih masjid melimpah? Suharyanto sudah mulai ancang-ancang mencari solusi. Komunitas juga membuka kesempatan bagi donatur untuk menyisihkan rezeki demi keberlangsungan komunitasnya. Karena sifatnya sukarela, tentu tak ada batasan minimal dan maksimal dalam menerima bantuan.

“Bantuan tenaga tentu tidak kalah penting, karena tidak mungkin dengan anggota terbatas bisa melayani ribuan masjid yang tersebar di berbagai wilayah Gunungkidul,” ungkapnya.

Ya, memang hanya membersihkan masjid, bukan rumah ibadah lain. Alasannya karena faktor keyakinan, sehingga Suharyanto meminta penganut agama lain agar memahami.

Ditanya kendala, alumnus SMK Muhammadiyah Karangmojo ini justru tersenyum. Pernah dalam satu dua kesempatan meluruskan informasi yang terpotong. Pengurus masjid beranggapan, komunitasnya hanya siap dengan tenaga saja. “Padahal sarana kebersihan kami juga ready,” ungkapnya.

Dia berharap, ke depan masyarakat luas tahu dengan aktivitas komunitas Lare Masjid. Termasuk mengerti bagaimana cara ‘memanggil’ para relawan hingga datang ke target sasaran. “Tinggal telepon saja, atau datang langsung ke tempat kami juga bisa. Lalu janjian kapan dan menentukan jamnya,” terangnya.

Sejauh ini kegiatan berlangsung setiap dua minggu sekali pada saat hari Minggu. Sengaja memilih hari libur agar lebih maksimal. Namun seandainya ada permintaan mendadak, mereka tetap siap.

Pria kelahiran 27 Mei 1984 ini berharap, pada saatnya nanti komunitasnya mampu menjadi organisasi besar, sehingga tidak hanya fokus pada kebersihan lingkungan masjid. “Kami mengawali kegiatan sosial keagamaan sesuai kemampuan,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakan, Komunitas Lare Masjid sebenarnya tidak hanya ada di Gunungkidul. Di Kota Jogja pun ada dengan menjalankan aktivitas serupa. (laz/fn)