Pernik-pernik menjelang Imlek 5 Februari mendatang, kini mulai marak. Dari amplop merah untuk angpao, lampion, lilin, dan yang tak ketinggalan adalah barongsai. Beberapa perajin barongsai pun kebanjiran pesanan. Tak terkecuali Mbah Dul Wahab ini.

FAIRIZA INSANI, Jogja

Nama lengkapnya Martinus Dul Wahab. Rumahnya yang berada di dalam deretan sebuah gang kecil sekitar Jalan Pajeksan, Jogja. Dekat Pasar Senen Jogja. Di sana sekaligus merupakan tempat kerjanya. Yakni membuat kerajinan barongsai ukuran kecil. Sasarannya adalah anak-anak.

Pria yang kerap disapa Mbah Dul ini telah menekuni kerajinan tersebut sejak 1991. Dia pun mengakui, setiap menjelang Imlek kebanjiran order. “Kemarin sudah ada pesanan yang jadi. Tiga barongsai,” ujarnya saat ditemui Radar Jogja Senin sore (21/1).

Saat ini, dia sedang menggarap lima barongsai. “Ini sudah jadi kepalanya. Tinggal pasang badannya,” tambahnya. Lima barongsai itu mampu dibuat Mbah Dul dalam waktu 10 hari. Tanpa bantuan siapa pun.

Dia menceritakan, tidak ada anak-anaknya yang berminat meneruskannya sebagai perajin barongsai ini. “Anak-anak sudah mlencar semua. Jadi ini di rumah tinggal saya dan istri tok,” ujarnya.

Kendati demikian, ia tetap semangat. Meski semuanya dia kerjakan sendiri. Rancangan tubuh barongsai misalnya, dia jahit menggunakan mesin jahit miliknya. Sedangkan untuk aksesoris tambahan, diperolehnya dari Semarang.
“Biasanya tiga bulan sekali saya ke Semarang. Beli banyak untuk sekalian persediaan beberapa bulan ke depan,” kata pria yang lahir 12 November 1932 ini.

Lebih lanjut dikatakan, konsumennya tidak hanya dari Jogjakarta. Tapi juga dari luar kota seperti Purwokerto. Sedangkan terkait permintaan konsumen, ia tak bisa menerima pesanan yang aneh-aneh.

“Dari tahun ke tahun saya nggak mau yang aneh-aneh. Biasanya kalau untuk kepala barongsai, yang penting matanya bisa merem-melek. Sama bibirnya bisa buka-tutup,” jelasnya sembari memperagakan pergerakan mata barongsai.
Selain keunikan pada gerak-gerik barongsai, pewarnaan juga menjadi salah satu aspek penting. Konsumen yang mayoritas keturunan Tionghoa, kerap menyukai warna merah dan kuning. Ia pun tak mengerti betul makna apa di balik warna-warna itu.

“Kadang ada yang minta pipinya barongsai dicat oranye. Katanya itu berarti barongsai wedok (perempuan, Red),” ungkap pria yang pernah bekerja di instansi pendidikan ini.

Satu barongsai dipatok seharga Rp 100 ribu. Dari hasil penjualan itu, dia mengaku tidak mengambil untung. “Ini untuk kegiatan saya sebelum nanti meninggal. Daripada tenguk-tenguk (menganggur, Red),” ucap pria berumur 86 tahun tapi masih energik ini.

Mulai bekerja sejak pukul 06.00 hingga 15.00, Mbah Dul tak ingin memaksakan diri. Jika fisiknya dirasa sudah lelah, dia pun akan beristirahat. “Pokoknya harus pandai-pandai menyeimbangkan kondisi tubuh saat ini,” katanya yang saat ditemui sudah menyelesaikan pekerjaannya itu. (laz)