PURWOREJO – Dapur umum yang bertanggung jawab memberikan logistik makanan matang bagi pengungsi dan masyarakat korban terendam air di Desa Wironatan, Butuh, Purworejo, secara resmi ditutup Sabtu (19/1) sore.

Kondisi wilayah yang airnya semakin surut menjadi dasar penutupan itu.
Hanya saja, keberadaan dapur umum itu hanya dipindahkan saja ke wilayah yang ebih membutuhkan yakni Desa Bendungan, Kecamatan Grabag.

Setidaknya setiap jam makan, dibutuhkan sekitar 1.000 nasi bungkus yang dibagikan di tiga wilayah desa karena terkena genangan air
Ketiga desa itu meliputi Bendungan dengan kebutuhan mencapai 400 nasi bungus, Purwodadi 268 bungkus dan Trimulyo 225 nasi bungkus. Khusus di Bendungan, distribusi makanan relatif berat di mana tugas dan relawan harus memanfaatkan perahu untuk mengirimkan nasi bungkus ke pengungsian.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Keluarga Berencana Perlindungan Perempuan dan Anak (Dinsos KBPPA) Purworejo Slamet mengatakan, Dandim 0708 Purworejo Letkol Inf Muchlis Gasim dan Pak Kalak BPBD Purworejo Sutrisno meminta dapur umum dipindahkan ke wilayah yang membutuhkan yakni Bendungan.

Pengungsi beralaskan tikar seadanya di lantai dua Balai Desa Bendungan, Sabtu malam (19/1). (Budi Agung/Radar Jogja)

Didampingi Kasi Rehabilitasi Korban Bencana Alam dan Sosial Yeni, Slamet mengatakan, di Bendungan kondisinya memang relatif parah dibandingkan dua desa lain. Seluruh kawasan nyaris lumpuh karena genangan. Sedangkan di Rowodadi dan Trimulyo masih lebih baik karena tidak seluruh wilayah tergenang air dan masyarakat masih bisa leluasa beraktivitas.

“Jika diperhitungkan sebenarnya kebutuhannya lebih besar dari yang dibungkus dalam setiap jam makan. Tapi itu tidak kami penuhi karena juga ingin mengedukasi masyarakat,” tambah Slamet Minggu (20/1).

Langkah ini pun tidak dilakukan tanpa pemberitahun, karena kepala desa Rowodadi dan Trimulyo telah diajak pertemuan, di mana distribusi makanan tidak diberikan penuh bagi masyarakat. Hanya masyarakat yang sangat membutuhkan saja yang diberikan.

Meski ada pembatasan, pihaknya tetap memberikan bantuan logistik berupa bahan makan mentah bagi masyarakat yang membutuhkan. Praktis sebagian masyarakat yang tergenang harus memasak sendiri untuk pemenuhan kebutuhan makannya.

“Mereka bisa menerima dan tidak seluruh penduduk juga menerima bantuan, karena mereka juga mampu secara materi,” tambah Slamet.

Terpisah, Dandim Letkol Inf Muchlis Gasim membenarkan, pihaknya mendorong pemindahan dapur umum dari Wironatan ke Bendungan. Dia melihat masyarakat di Bendungan lebih membutuhkan pasca surutnya Wironatan.

“Ternyata air menuju ke selatan yakni ke Bendungan di Grabag dan sekitarnya,” kata Gasim. Masyarakat di Bendungan cukup terisolir karena ketinggian genangan mencapai 50 sentimeter. Dari kondisi itu tidak bisa beraktivitas dan hanya standby di rumah.

“Kami belum tahu, sampai kapan posko di Bendungan ini akan didirikan. Yang jelas dapur umum akan ditutup kalau airnya sudah benar-benar surut dan masyarakat bisa beraktivitas seperti biasa,” ungkapnya. (udi/laz/fn)