SLEMAN – Suasana di dalam Lapas Kelas IIB Sleman Sabtu pagi (19/1) ramai oleh ratusan warga lapas yang diruqyah masal. Sebanyak 100 warga binaan dan 125 karyawan yang mengikuti ruqyah

Kasubsi Registrasi dan Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Kelas II B Sleman Erik Murdiyanto menjelaskan, ruqyah masal ini baru pertama kali dilakukan. Bekerja sama dengan Jamiyyah Ruqyah Aswaja Bantul dan Sleman.

“Harapannya bisa sehat secara jasmani dan rohani, agar secara religi menjadi manusia yang lebih baik dan berguna bagi masyarakat,” ungkapnya pada Radar Jogja.

Ketua Pimpinan Jamiyyah Ruqyah Aswaja Bantul Tamzis Nurudin mengatakan, Ruqyah atau Suwuk dalam bahasa Jawa ini tak hanya untuk manusia namun juga hewan, tumbuhan, maupun tempat. Sifatnya menetralkan energi negatif, dan bertujuan untuk kebaikan.

Dia menguraikan proses ruqyah menggunakan metode innaba, dengan merenung dan mengakui dosa-dosa kepada Allah. Dimulai dengan meminum air putih yang sudah didoakan, ditutup dengan sejenis hypnoterapy untuk menetralkan energi tubuh.

Tamzis menyebutkan reaksi ruqyah bermacam-macam dan berbeda bagi setiap orang. Ada yang menangis, muntah, ngompol, menjerit, berkeringat, bahkan ngompol. “Ruqyah tidak mesti kesurupan,” tegasnya.

Diiringi dengan melafalkan ayat-ayat Alquran yang dipercaya sebagai obat pertama untuk kesembuhan. “Ayat pendek pendek yang dibaca ada Al Falaq, An Nas, ayat kursi, Al Zalzalah, shalawat, dan ayat Asyifa,” tuturnya.

Tamzis berharap setelah ruqyah warga lapas dapat menjadi lebih baik untuk bertobat dan ikut memasyarakat.

Sementara, Pembimbing Kerohanian Islam Lapas Cebongan Sri Mulyadi  menguraikan, 100 warga binaan tersebut dipilih berdasar kriteria yang telah lulus ujian praktik salat, wudhu, bacaan salat, surat pendek, serta yang sering terserang gangguan ghaib maupun penyakit menahun yang tidak kunjung sembuh. Rencananya, ruqyah masal akan dilakukan secara rutin. (tif/ila)