SLEMAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman meminta masyarakat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Apalagi ketika musim hujan seperti saat ini.

Sebab banyak ancaman penyakit ketika hujan. Demam berdarah dengue (DBD) contohnya. Apalagi Sleman tengah memasuki siklus empat tahunan DBD.

Kabid Penanggulangan Penyakit, Dinkes Sleman, Novita Krisnaeni menjelaskan, pada 2018 jumlah penderita DBD di Sleman menurun. “Ada 144 orang terkena DBD. Satu di antaranya meninggal dunia,” ujar Novita (18/1).

Dia menyatakan sejak 2006 ada siklus empat tahunan DBD. Pada 2019 ini masuk tahun keempat. “Biasanya Januari-Februari kasus DBD meningkat. Karena banyak genangan air,” katanya.

Pada 2016, jumlah kasus DBD di Sleman mencapai 880. Sembilan orang di antaranya meninggal dunia. Pada 2017 menurun menjadi 427 kasus. Dengan empat orang meninggal dunia.

“Pada 2018 turun. Hanya saja, 2019 ini masuk tahun keempat. Saya minta agar masyarakat semakin waspada DBD,” pintanya.

Kasie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinkes Sleman, Dulzaini menjelaskan, kecamatan yang beririsan dengan kota menjadi tempat paling rawan. Disebabkan tingkat kepadatan penduduk tinggi. Ditambah pola hidup masyarakat dan lingkungan yang cenderung kumuh.

Setidaknya di Sleman ada enam lokasi yang paling rawan DBD. Yakni di Kecamatan Depok, Ngaglik, Mlati, Godean, Gamping, dan Kalasan.
Sebagai antisipasi, pihaknya melakukan foging untuk membunuh indukan nyamuk. Dulzaini meminta masyarakat menerapkan 3M. “Menguras, menutup dan yang terakhir bukan lagi mengubur, tapi me-recycle,” jelasnya. (har/iwa/fn)