Indonesia kembali berduka. Salah seorang putra terbaik berpulang ke Sang Khalik. Dialah Tony Prasetiantono, ekonom andal dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

SIANG itu, selepas salat Jumat Jumat(18/1), area Makam Keluarga UGM di Dusun Sawitsari, Condongcatur, Depok, Sleman dipenuhi ratusan pelayat. Mengantarkan kepergian sang pakar ekonomi yang juga dosen fakultas ekonomika dan bisnis itu. Tony berkiprah di kampus biru sejak 1986.

Karangan bunga tertata rapi di area makam. Salah satunya dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Juga pejabat-pejabat penting lainnya. Termasuk dari UGM dan SMA Kolese De Britto, almamater Tony.

Isak tangis pecah. Ketika keranda dibuka. Istri Tony, Eva Suvita, dan putrinya, Meidiana Sasha Putri, tak sanggup menahan air mata. Bahkan ketika jenazah Tony telah dimakamkan, ibu dan anak itu tidak lekas beranjak dari pusara.

Masih segar dalam ingatan kita. Belum lama ini Tony menuliskan opininya di sebuah surat kabar nasional. “Masih ada Ruang” judul opini itu.

Di sana dia menulis “Tidak satu pun di antara kita yang tidak menyadari bahwa perekonomian 2019 masih akan tetap sulit. Jalan masih terjal. Ibarat lorong gelap, banyak hal yang tetap belum ketahuan ujungnya. Perekonomian global masih dicekam ketidakpastian. Perang dagang AS-China belum reda; suku bunga AS masih berpotensi naik; harga minyak dunia belum stabil. Namun, apakah semua ini akan berujung pada pesimisme perekonomian Indonesia? Saya rasa tidak. Masih ada ruang bagi kita untuk bergerak,” tulisnya.

Kini masyarakat tidak bisa lagi membaca analisis ekonominya. Yang tajam dan mendalam itu. Bahkan analisisnya selalu menjadi rujukan pemerintah. Untuk membangun negara ini. “Beliau seorang peneliti yang ikut berpartisipasi untuk kemajuan bangsa. Kontribusinya untuk bangsa sangat besar,” ujar Menteri Sekretaris Negara Pratikno saat melayat di rumah duka, kompleks Perumahan Pesona Merapi J 7-8, Ngaglik, Sleman.

Pratikno merasa berat melepas kepergian Tony. Karena kehilangan seseorang yang teramat penting kiprahnya bagi negeri ini. “Saya juga dititipi salam dari Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo) karena juga beliau kenal dekat dengan Pak Tony. Doa kita bersama,” sambungnya.

Kepergian sang ekonom senior itu juga tidak disangka-sangka oleh pihak keluarga. Selepas mengunjungi anaknya yang kuliah di Belanda, Tony ditemukan meninggal di kamar hotel di Jakarta.

“Dari deskripsi pegawai hotel, sebelum meninggal Pak Tony sempat menelepon resepsionis. Setelah pintu kamar diketuk tidak ada jawaban lalu dibuka dengan kunci lain. Pak Tony sudah terdiam. Posisinya sedang duduk, diam di kursi,” ungkap Ferry Kurniawan, keponakan Tony.

Hingga kini sebab meninggalnya Tony belum diketahui secara pasti. Ada dugaan karena serangan jantung. Menurut Ferry, saat di Belanda Tony sempat sakit juga. “Dulu pernah operasi jantung. Tapi setelah itu tidak ada masalah lagi,” ujar pria berkaca mata itu.

Bagi Ferry, sosok Tony bukan sekadar paman. Tapi layaknya guru dalam kehidupan. Sepak terjang Tony menjadi panutan bagi keluarga besarnya. “Seperti influencer-lah. Beliau ekonomi, saya juga akhirnya kuliah di ekonomi. Sama-sama di UGM,” katanya.

Tony juga dikenal sebagai sosok yang ramah. Pada siapa pun. Selain itu, ada tiga hal yang tidak bisa lepas dari pria yang meninggal di usia 56 tahun tersebut. Musik jazz, sepak bola, dan basket. “Dulu sekali Pak Tony suka bermain bola. Memang pada dasarnya beliau orang yang sporty,” kenangnya.

Tony memang sangat dekat dengan keluarga. Meski hanya berstatus keponakan, Ferry bahkan sangat paham dengan keseharian Tony. Termasuk, salah satunya, kebiasaan saat membaca koran. Tony selalu memulainya dari halaman belakang. Berita olah raga selalu dibaca lebih dulu.

“Jadi kalau baca koran itu dibalik. Cari berita olah raga dulu walaupun beliau seorang ekonom. Dan itu juga menular di keluarga yang lain,” ungkapnya.

Semasa hidupnya Tony juga dikenal sebagai pribadi yang sangat gigih. Buktinya, dia mampu merintis konser musik bertajuk Economics Jazz Live di DIJ pada 1987. Saat itu Tony masih berstatus dosen muda. Konser jazz tetap langgeng sampai sekarang. Bahkan menjadi agenda rutin tahunan.

“Saya tahu bagaimana berdarah-darahnya beliau menggelar acara itu pertama kali. Bahkan saya ingat betul dapat sponsor nilainya hanya Rp 45 ribu,” ujar Hery Nugroho, kawan seperjuangan Tony.

Banyak pengalaman berkesan saat Hery bersama Tony merintis Economics Jazz Live itu. Meski pada penyelenggaraan pertama mereka terpaksa nombok. Karena pemasukan yang didapat lebih kecil. “Nombok banyak. Bahkan ada teman yang sampai menggadaikan motor,” kenangnya.

Economics Jazz Live memang sempat vakum. Saat Tony sibuk kuliah di luar negeri. Namun sekembalinya di Tanah Air, Tony langsung menunjukkan konsistensinya.

Rentang waktu 1987-2018, dibantu mahasiswanya di FEB UGM, dia berhasil menyelanggarakan 24 kali konser Economics Jazz Live. Yang kini berganti nama menjadi UGM Jazz. Konser terakhir digelar 3 November 2018 di Grand Pacific Hall.

Kini, ekonom dan penyuka musik jazz itu telah berpulang. Semoga apa yang dilakukan Tony semasa hidupnya bisa dicontoh oleh ekonom muda Indonesia. Selamat jalan, doa kami sebagai warga DIJ menyertainya. Selamat jalan Pak Tony…(yog)