Rencana Sukamto, warga RT 1 RW 1 Desa Triwarno, Grabag menggelar hajatan khitanan anaknya nyaris berantakan. Hajatan akan digelar hari ini. Hujan deras merendam rumahnya. Beruntung, ada tetangga yang rumahnya aman.

BUDI AGUNG, Purworejo

Matahari siang masih tampak jelas di atas langit Trimulyo, Kamis siang (17/1). Sebuah rumah yang tepat berada di pinggir sungai lereng tampak melakukan berbagai persiapan orang yang hendak memiliki hajatan.

Tampak ada beberapa orang yang berbagi tugas, mulai dari memasang tratag, membersihkan tempat serta menata meja. Mereka terpaksa meminggirkan meja yang telah dipasang tepat di tengah jalan saat ada iring-iringan mobil Bupati Purworejo Agus Bastian hendak melewati kawasan tersebut.

Beruntung bupati dan rombongan berhenti cukup lama di atas jembatan saluran. Cukup waktu untuk menyisihkan meja yang terpasang untuk memberikan ruang saat bupati hendak lewat.

Dari seorang warga yang tengah menemani bupati ngobrol dengan seorang penjual bebek diketahui, lokasi yang sedang disiapkan untuk ‘gawe’ itu bukanlah warga yang berada di rumah tersebut. Rumah aslinya berada agak dalam di RT RW yang sama.

Benar saja, Sukamto menginformasikan jika dirinya terpaksa memindah lokasi hajatan anaknya, Sidik, karena rumahnya terendam. Dia memilih meminjam tempat saudaranya untuk meluluskan permintaan anaknya disunat. “Rumah saya tidak mungkin digunakan untuk hajatan. Kasihan nanti tamu atau tetangga yang datang,” kata Sukamto didampingi istrinya Lukimah.

Jauh hari, keluarganya memang menginginkan saat anaknya minta sunat akan dibuatkan selamatan lebih besar dari biasanya. Dia menyiapkan panggung lengkap dengan ubo rampenya layaknya orang punya gawe besar.

Sayang, tampaknya hujan tidak bersahabat dan memberikan lebih dari yang diharapkan. Akibatnya, rumah tempat tinggalnya tidak memungkinkan untuk digunakan. Atas pertimbangan dari saudara dan tetangga, akhirnya lokasi hajatan dipindahkan. Sebenarnya sangat ingin membuat selamatan di rumah sendiri, tapi tidak mungkin. “Wong orang punya gawe itu kan tidak sendiri dan melibatkan banyak orang. Kalau harus kesana kesini ya repot. Semua bisa basah,” imbuhnya.

Tidak ingin mengecewakan sang anak dan saat diberikan pemahaman bisa memaklumi, akhirnya semua sepakat dipindahkan. Tak ayal, mereka harus bekerja dua kali. Karena harus membongkar dan memasang kembali di tempat yang baru. “Semoga cuacanya bersahabat dan besok (hari ini, Red), semua bisa lancar sesuai harapan,” harap Sukamto. (din/fn)