GUNUNGKIDUL – Kehadiran Bandara NYIA di Kulonprogo, menjadi tantangan bagi Gunungkidul. Dikhawatirkan bisa menggerus pendapatan maupun jumlah kunjungan pelancong ke Bumi Handayani. Perlu ada inovasi segar. Demi menghidupkan turisme.

“Jika tidak mau (wisatawan meninggalkan Gunungkidul), semua mau harus merubah cara berfikir,” ujar kata Bupati Gunungkidul Badingah Kamis (17/1).
Bukan hanya kabupaten tetangga, Kulonprogo, yang menjadi pesaing. Tapi, provinsi tetangga juga. ’’Karena Jawa Tengah (Jateng) yang dekat dengan akses bandara juga sudah siap,” lanjutnya.

Perhatian khusus itu juga diberikan Pemkab Gunungkidul seiring menurunnya pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Demi menggenjot sektor tersebut, pemkab harus melakukan banyak pembenahan. Mulai dari infrastruktur jalan, jembatan, penerangan dan beberapa titik yang belum teraliri air.

’’Saatnya jalur kelok 18 harus selesai secepatnya. Jalur tersebut merupakan salah satu akses menuju GK masuk ke daerah wisata,” terangnya.

Kepala Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral DIJ, Bambang Sugaib menyampaikan, penghubung JJLS dari Bantul ke Gunungkidul segera tersambung dengan pembangunan Kelok 18. Ruas Kelok 18 di ruas JJLS sepanjang 4,7 kilometer dari Parangtritis, Bantul, hingga Girijati, Panggang, Gunungkidul.

’’Untuk tanah pembangunan (Kelok 18) sudah dibebaskan. Desainnya sudah ada. Insya Allah 2019 pembangunannya dimulai,” kata Bambang.

Dijelaskannya, untuk anggaran pembangunan fisik sekitar Rp 280 miliar berasal dari pemerintah pusat. Penyelesaian ke arah pembiayaan, ketersediaan anggaran dari pusat, untuk konstruksi saja sekitar Rp 280 miliar.

Perlu diketahui, JJLS sepanjang 121,828 km membentang dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Proyek ini melewati Kulonprogo sepanjang 23,29 kilometer, Bantul 16.282 kilometer, dan Gunungkidul 82,256 kilometer.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul Hari Sukmono tidak menampik, keberadaan Bandara NYIA di Kulonprogo dapat mempengaruhi kunjungan wisata di wilayahnya. Oleh sebab itu pihaknya meminta kepada semua organisisasi perangkat daerah OPD) agar bersinergi.

“Kami juga membentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD). Lembaga tersebut sebagai satu di antara mitra pemerintah dalam mempromosikan pariwisata, pemasaran dan kelembagaan pariwisata,” kata Hari Sukomono. (gun/ami/fn)