JOGJA – Dua tahun terakhir ini, angka perceraian di Jogja dapat dibilang tinggi. Dari data yang dimiliki oleh Pengadilan Agama Kota Jogja pada 2017 terhitung sudah ada 648 kasus. Meski tahun lalu turun menjadi 517 kasus perceraian.

Itu menjadi perhatian bagi Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kota Jogja Nur Abadi untuk lebih memaksimalkan program bimbingan pra nikah. Menurut dia program yang sudah berjalan selama dua tahun tersebut, dinilai dapat menekan kasus perceraian untuk tahun ini. “Dari testimoni beberapa pasangan yang sudah mengikuti bimbingan pra nikah Kemenag Kota Jogja, mayoritas mengaku bermanfaat,” ujarnya Kamis (17/1).

Menurut dia, setidaknya Kemenag sudah melakukan bimbingan kepada 600 pasangan. Jumlah tersebut dihitung dari jumlah bimbingan yang sudah dilakukan selama satu tahun terakhir. “Kemenag Kota Jogja dalam satu tahun setidaknya telah melakukan bimbingan sebanyak dua puluh angkatan. Satu angkatan rata-rata diikuti 30 pasangan,” ungkapnya.

Program tersebut, lanjut Abadi juga akan diwajibkan dan rencanannya akan lebih diintensifkan pada tahun ini. Untuk spesifikasi program, Abadi menjelaskan materi yang diberikan berupa pembekalan berupa pembekalan tentang pemahaman pasangan menjalankan bahtera rumah tangga.”Pelatihan dilakukan selama dua hari. Untuk materinya seperti manajemen ekonomi dan bagaimana kiat membangun keluarga yang harmonis,” imbuhnya.

Agar program tersebut dapat berjalan lancar tahun ini, Abadi mengatakan juga sudah bekerjasama dengan beberapa pihak. “Mengingat pentingnya program ini, kami sudah bekerja sama dengan Pemkot dan Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4) Jogja,” ucapnya. (cr5/pra/fn)