GUNUNGKIDUL – Jumlah lembaga pendidikan yang bermasalah dengan tukar guling lahan di Gunungkidul terus bertambah. Setelah dilakukan inventarisasi, ada enam lahan sekolah yang bersengketa.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rasyid mengungkapkan, enam sekolah tersebut tersebar di sejumlah kecamatan. Di antaranya, Kecamatan Semin, Nglipar, dan Ngawen.

”Inventarisasi melibatkan kepala desa hingga dispertarung (dinas pertanahan dan tata ruang),” jelas Bahron di kantornya Rabu (16/1).

Dari hasil inventarisasi diketahui, permasalahan sengketa lahan muncul usai pemilik tanah meninggal dunia. Yang mempersoalkan ahli warisnya. Padahal, proses tukar guling itu sudah terjadi cukup lama. Dari itu, Bahron menekankan, proses inventarisasi sangat penting. Itu untuk mencari kepastian hukum.

”Jangan sampai ada masalah dengan pemilik atau ahli waris lagi,” ujarnya.
Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul Herry Kriswanto sepakat dengan langkah disdikpora. Agar sengketa lahan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
”Dan psikis siswa,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Komisi D pernah membahas sengketa lahan Senin (7/1) lalu. Namun, yang dibahas adalah sengketa lahan SDN 4 Ngawen. Saat itu Kepala Desa Kampung Suparna menyampaikan lahan SDN 4 Ngawen yang dipersoalkan ahli warisnya. Padahal, proses tukar guling terjadi pada 1963. Di sisi lain, pemerintah desa juga telah memberikan tanah pengganti. (gun/zam/fn)