MEDIA sosial (medsos) adalah sebuah kelompok jaringan yang berbasis aplikasi dalam internet yang dibangun berdasarkan teknologi dan konsep web 2.0, sehingga dapat membuat pengguna menciptakan konten yang disebarkan (Curran & Lennon, 2011).

Idealnya medsos merupakan alat yang semakin mempererat ikatan social melalui konten-konten positif yang diciptakan atau disebarkannya.Namun pada realitanya, medsos malah menjadi sebaliknya. Medsos malah menjadi alat perenggang karena banyaknya konten-konten negative yang disebarkan. Salah satu konten negative tersebut adalah ujaran kebencian (hate speech).

Seperti yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Menurut Polri, kasus hate speech di Indonesia sedang meningkat. Bahkan pada tahun 2017, Polri menangani 3.325 kasus atau naik 44,99% dari tahun sebelumnya. Tindak pidana yang mendominasi adalah terkait penghinaan, yaitu sebesar 1.657.

Melihat kondisi tersebut, bisa dikatakan bahwa Indonesia sedang mengalami krisis kesantunan berbahasa di medsos. Lantas sepertiapa alternative solusi yang bisa dilakukan?

Mulai dari Keluarga

Keluarga memang memiliki peran sentral, yaitu sebagai proses dimana warga masyarakat dididik untuk mengenal, memahami, menaati, dan menghargai norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat (Soerjono, 1982).

Diantara peran sentral tersebut adalah pendidikan. Idealnya keluargalah yang mendidik dan menanamkan nilai-nilai dasar. Sehingga ketika proses itu berjalan dengan baik, masyarakat pun akan mengalami ikatan social yang kuat, seperti di medsos.

Berkaitan dengan peran tersebut dan melihat realita yang ada belakangan ini, memang sudah seharusnya keluarga menekankan kesantunan berbahasa dalam pendidikannya. Sehingga kedamaian di medsos pun akan dekat untuk terwujud.

Salah satu ahli yang menawarkan konsep kesantunan berbahasa adalah Leech. Dalam konsepnya, Leech menawarkan beberapa prinsip yang bisa diterapkan (Rahardi, 2005).

Pertama, Kebijaksanaan

Bahwa hendaknya setiap orang selalu meminimalkan keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan orang lain (dalam berbahasa). Sehingga dalam bermedsos, setiap orang akan berhati-hati dalam menyebarkan konten-konten yang merugikan orang lain, seperti fitnah atau penghinaan.

Kedua, Penghargaan

Hendaknya setiap orang meminimalkan rasa hormat kepada dirinya dan memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain. Rasa hormat memang salah satu factor penting dalam berinteraksi dengan orang lain, dengan menerapkan prinsip tersebut seseorang akan lebih menebarkan konten-konten positif berupa pujian di medsos. Pujian merupakan bentuk dari rasa hormat pada orang lain.

Ketiga, Kesimpatian

Hendaknya setiap orang memaksimalkan sikap simpati antara dirinya dengan orang lain. Simpati merupakan suatu ekspresi kekeluargaan, bagaimana seseorang merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, orang lain dianggap sebagai saudaranya (keluarga). Sehingga ketika prinsip ini diterapkan dalambermedsos, seseorang tidak akan mudah mem-bully atau menghakimi.

Berkaitan dengan ketiga prinsip tersebut, intinya adalah bagaimana kita menciptakan rasa aman dan nyaman dalam bermedsos. Merujuk pada konsep piramida Maslow, sehingga setelah seseorang merasa aman dan nyaman, selanjutnya yang timbul adalah rasa kasih sayang (kedamaian).

Ringkasnya, salah satu jalan untuk mewujudkan kedamaian di medsos adalah melalui kesantunan berbahasa berupa penciptaan rasa aman dan nyaman. Sehingga nantinya, yang ada di medsos adalah ujaran kedamaian bukan kebencian. (ila)

*Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga, Ketua Pelaksana Laboratorium Pengembangan Profesi Pekerjaan Sosial (LP3S) UIN Sunan Kalijaga, Pemerhati MediaSosial, dan Santri di Pondok Literasi Baitul Kilmah.