BUKU yang sederhana. Mungkin begitu kesan yang akan engkau temukan saat pertama kali menggengam kumpulan cerita pendek (cerpen) berjudul Perempuan Serigala karya Gary Ghaffuri.

Sampulnya berwarna biru muda. Ada dua mata hijau tajam yang seakan-akan muncul dari ruang hampa di sana seperti ingin menegaskan judul bukunya. Sekilas, ada kesan blak-blakan yang medioker.  Namun bukan rahasia, sesuatu yang sederhana dari luar ternyata mengandung cerita-cerita yang bisa menggelitik rasa.

Pada karya perdananya, alumnus Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini membagikan tujuh koleksi cerpennya kepada para pembaca yang budiman. Ulasan karya ini akan dibagi menjadi hidangan pembuka (appetizer), hidangan utama (main course), dan hidangan penutup (dessert).

Judul-judul yang akan dibahas di sini tidak sesuai dengan urutan di dalam buku. Membaginya menjadi tiga bagian yang tidak sesuai dengan daftar isi buku bisa membantu untuk membaca Perempuan Serigala sebagai sebuah kesatuan karya yang lebih menggoda.

Appetizer atau hidangan pembuka biasanya bertujuan untuk membangkitkan selera. Supaya lebih lahap engkau membaca, kusajikan kenangan sebagai hidangan pembuka. Ada dua judul berkisah tentang kenangan dalam buku ini. Pertama berjudul “Babu Cino” dan yang kedua adalah “Dua Orang Pencuri Buku”.

Keduanya berkisah tentang tokoh utama yang mengenang masa lalu mereka. “Aku” sebagai tokoh utama di cerita “Babu Cino” berkisah tentang masa kecilnya di Semarang dengan sahabat kecilnya bernama Liam dan kegandrungan mereka terhadap PSIS Semarang. Sementara Nina, bintang utama di judul yang kedua, mengenang masa kuliahnya, juga bersama dengan sahabatnya bernama, Dinar. Yang satu mengenang masa kecil, yang satu mengenang masa kuliah, dan yang kita tahu pasti adalah dua masa itu adalah waktu dimana kita tidak perlu pusing memikirkan bayar cicilan motor, KPR, investasi masa depan, asuransi pendidikan anak dsb. Santai berselera!

Beranjak ke hidangan utama atau main course, engkau akan mendapati empat judul dengan tema politik dan sosial yang menarik. Keempatnya adalah “Perempuan Serigala”, “Menikahi Bidadari”, “Pawang Hujan dan Celana Dalam” dan “Levantine”.

Mari kita mulai hidangan utama ini dengan cerpen andalan yang berjudul sama seperti buku ini, “Perempuan Serigala”. Gary memilih sudut pandang orang kedua dalam menyetir cerita pembuka yang memiliki latar belakang peristiwa reformasi sebuah negara. Dalam hal ini, Gary bisa dibilang cukup berani, sebab sudut pandang orang kedua jarang digunakan oleh penulis di Indonesia, utamanya penulis pemula. Biasanya para penulis pemula lebih suka menggunakan sudut pandang ketiga karena dianggap lebih mumpuni untuk menjelaskan semesta cerita dengan lengkap.

“Kau”, tokoh utama di cerita ini, adalah lelaki biasa saja. Ia hidup di akhir periode sebuah pemerintahan yang tiran. Sebagai orang Indonesia, engkau boleh-boleh saja menganggap kisah ini terjadi menjelang reformasi 1998.  Seperti orang kebanyakan, “Kau” bekerja  8 jam sebagai akuntan dan menghabiskan waktunya 2 jam di kereta komuter ibukota. Di samping profilnya yang kaku itu, “Kau” punya hobi menggambar.

Tenang saja, ini bukan cerita yang membosankan. Segera kuberitahu engkau sebuah rahasia besar. “Kau” bisa melihat sosok binatang pada diri seseorang sebagai perwujudan kepribadiannya. Misalnya sang tiran yang memerintah negara saat itu ternyata berwujud babi. Oke baiklah, tokohmu ini tidaklah biasa-biasa banget.

Suatu hari di sore yang mendung, kehidupan “Kau” yang semenjana itu berubah, tepat saat dia melihat seorang perempuan berwujud serigala putih bermata hijau toska duduk di sampingnya di dalam kereta. Menurut “Kau”, serigala biasanya berbulu hitam atau cokelat tua dan memiliki mata berwarna merah marah. Tapi kali ini, “Kau” bertemu dengan sang pengecualian yang mengusik perasaannya.

Dengan kalimat-kalimat yang lugas dan tidak sok ‘nyastra’, Gary berkisah tentang kedekatan “Kau” dan Perempuan Serigala. Dimulai dari ngopi asyik di stasiun kereta, mereka pun berbagi kisah hidup, hobi dan rahasia masing-masing. Hingga sebuah tawaran dinaikkan ke meja perundingan, Perempuan Serigala mengajaknya menggulingkan sang tiran.

Pembaca yang budiman boleh saja menilai ini sebagai sebuah serpihan dari isu politik era 1998 yang sudah banyak ditulis dimana-mana, tapi engkau pun bisa menerima ini sebagai cerita cinta yang sunyi, minim hasrat namun menghangatkan jika engkau punya sedikit saja kepercayaan pada perlawanan. Bagi para penyuka cerita aktivisme, politik dan berbumbu cinta yang senyap tapi hangat, mungkin kisah ini bisa jadi favoritmu.

Pria asli Kendal ini memang sepertinya punya ketertarikan pada peristiwa politik besar. Jika tahun 1997-1998 pergerakan politik kaum aktivis di ibukota begitu kencang bisa engkau nikmati dalam Perempuan Serigala, maka periode yang sama dengan latar belakang intrik politik level desa akan engkau temukan di cerita berjudul “Menikahi Bidadari”.  “Menikahi Bidadari” berkisah tentang seorang pria pincang bernama Karto Pengkor yang hobi bercinta dengan binatang. Hobi janggalnya ini akan membuka kisah yang lebih lama lagi terkait dengan serpihan peristiwa politik besar di Indonesia seperti revolusi 1945 dan peristiwa G30S. Cerita berlatar belakang desa yang lain bisa ditemukan pada kisah berjudul “Pawang Hujan dan Celana Dalam”. Temanya adalah kehidupan sosial masyarakat desa yang masih kental dengan perdebatan antara yang tradisional dan yang sesuai dengan syariat agama. Sekilas, cerita ini akan mengingatkan engkau pada karya-karya Kuntowijoyo yang gemar berkisah tentang relasi sosial masyarakat rural.

Akhir-akhir ini Indonesia kerap dilanda persoalan intoleransi. Percekcokan di sana sini terjadi akibat perbedaan. Sejenak mari kita berkontemplasi lewat cerita hangat berjudul “Levantine”. Dengan latar belakang Perang Dunia I, Gary seperti ingin memberi alternatif cerita atau menitipkan asa lewat sebuah natal yang hangat di tengah perang yang berkecamuk. Meski Filsuf Realis Thomas Hobbes mengatakan bahwa manusia adalah serigala bagi manusia Lain, namun manusia tetaplah manusia, yang memberikan ruang untuk kasih sayang dalam titik tergelap sekalipun. Sebuah pesan yang bisa kita amini terlebih sekarang kita begitu mudah untuk menyakiti.

Pembaca yang budiman, sampailah kita pada hidangan penutup atau dessert. Dessert umumnya bercita rasa manis dan menyegarkan. Rasa yang sama akan engkau temui pada cerita berjudul sangat panjang “ Perbincangan Tidak Penting mengenai Cara Terbaik untuk Mati Bunuh Diri, Cara Bercinta di Luar Angkasa, Kate Upton, Cara Menyunat Wolverine dan Ilmu Rawa Rontek”. Judul ini berkisah tentang percakapan hangat antara pasangan suami istri muda di ruang tengah rumah mereka. Si suami yang berprofesi sebagai penulis sedang menggali ide-ide tulisan jitu bersama dengan istrinya. Jika engkau bisa berbagi pikiran dengan pasanganmu tentang apapun seperti yang ada dalam cerita ini, tentu itu akan jadi #relationshipgoal bukan? Sungguh cerita penutup yang manis dan menyegarkan.

Demikianlah Perempuan Serigala dalam Tiga Hidangan. Selamat untuk putra daerah Kendal atas karya perdananya yang sangat menarik. (ila)

*Penulis merupakan pembaca fiksi, pengelola Aksara Library dan tinggal di Kota Jogja.