Penelitian itu butuh satu tahun. Sekaligus observasinya. Membuat video terapi. Bagi anak autis. Lahirlah Temen: Terapi Autisme Online. Berikut cerita Angelina Freshbi Chesa Halim dan Anglila Siddha Paramarthastri.

SEVTIA EKA NOVARITA, Jogja

ITU bukan video biasa. Membuatnya pun butuh tenaga ekstra. Pikiran ekstra. Dan sempat diwarnai kegagalan. Berkali-kali gagal membuat video yang diharapkan tak membuat dua siswa SMAN 8 Kota Jogja itu patah arang. Mereka terus melakukan observasi. Hingga jadilah sebuah video yang sesuai harapan. Bisa menjadi sarana terapi anak autis.

Semua itu berawal ketika Chesa dan Lila bertemu dengan orang tua anak autis. Pada 2017 lalu. Mereka sering mendengar keluh kesah. Akan mahalnya biaya terapi anak autis. Pun demikian biaya sekolahnya. Rasa empati mulai muncul. Terlebih setelah keduanya tahu. Bahwa jumlah terapis anak autis sangat sedikit. Tak sebanding dengan jumlah anak autis di Indonesia.

Kebetulan keduanya memiliki hobi yang sama. Membuat video. Singkat cerita, terbersitlah ide. Membuat video, yang kontennya bisa untuk terapi anak autis.
Tak hanya itu. Video itu juga harus bisa diakses secara mudah. Dan murah. Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. “Membuat konten videonya memang tidak mudah,” ungkap Chesa, siswi kelas XI IPA, Selasa (15/1).

Riset diawali dengan pendekatan kepada guru-guru di salah satu sekolah luar biasa (SLB) di Kota Jogja. Tahap ini untuk menggali metode belajar yang tepat bagi anak autis. Diperolehlah metode yang mereka anggap tepat. Sebagai konsep terapi dalam video. Berupa metode Applied Behavioran Analysis (ABA).

“Terapi ini mengajarkan kemampuan dasar kognitif anak penyandang autis. Yaitu kemampuan mengenal huruf dan angka,” jelas Chesa. Semua dimulai dari dasar. karena anak autis belajar tidak seperti anak normal pada umumnya.

Video pertama pun berhasil dibuat. Berdurasi 15 menit. Video uji coba tahap awal ini berisi pengenalan abjad. Dari A sampai Z. Gagal.

Saat diputar di hadapan anak autis ternyata tak digubris. Anak itu tetap sibuk bermain dan berlari. Tak sekalipun memperhatikan video itu.

Tak patah semangat, Chesa dan Lila lantas membenahi konten videonya. Dengan pendampingan seorang psikolog. “Kami dapat masukan bahwa video masih terlalu monoton,” ungkap Chesa.

Video tahap kedua diuji coba. Setelah direvisi. Ditambah animasi. Hasilnya lumayan. Saat diuji coba di ruang yang lebih luas anak autis mulai tertarik. Namun tetap belum fokus pada video yang diputar.

Baru di tahap ketiga hasilnya lebih optimal. Dengan pembenahan konten suara dan perbaikan animasi. Video ini dirasa sangat efektif. Anak-anak autis mulai mengikuti apa yang disampaikan Chesa melalui video itu. Ya, sampai saat ini Chesa adalah tokoh utama sekaligus terapis dalam video itu. Mereka menamainya Temen: Terapi Autisme Online.

Sejauh ini sudah 15 video diunggah di Youtube. Sebagaimana tujuan awalnya. Mudah dan murah diakses publik. Terutama bagi para orang tua anak autis.
Di luar dugaan, hasil penelitian itu ditolak saat diikutsertakan dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2017. Pun demikian untuk Lomba Penelitian Belia (LPB) di tahun yang sama. Namun Chesa dan Lila tak merasa minder.

Bahkan Chesa dan Lila pernah mengikutsertakan hasil riset Temen di ajang National Young Investors Award 2017 yang diselenggarakan LIPI. Gagal juga. Namun jerih payah keduanya terbukti memang patut mendapat apresiasi tinggi.

Pada akhirnya. Seolah berbalik 180 derajat. Hasil riset Temen meraih medali emas dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2018 di Tangerang. Bahkan menjadi salah satu karya yang akan diikutsertakan dalam The Intel Internatinal Science and Engineering Fair (Intel ISEF) di Amerika pada Mei mendatang. “Itu setelah Temen lolos seleksi di Bogor pada 26 November 2018 lalu,” ungkapnya.

Nah, untuk presentasi di Amerika, Chesa dan Lila kini berupaya menyempurnakan lagi karya mereka. Juga membuat video-video lain yang konten dan fungsinya sama. Sebagai sarana terapi anak autis. (yog/fn)