Wacana untuk mengembangkan hunian vertikal di DIJ kembali bergulir di awal 2019 ini. Hal itu menyusul semakin menipisnya lahan yang bisa digunakan untuk membangun hunian.

Di wilayah kota Jogja, misalnya. Sudah penuh sesak dengan kawasan permukiman. Ketersediaan lahan menjadi sangat terbatas. Pun jika ada harga akan sangat tinggi.

Dampaknya lebih kepada nilai jual hunian. Tentunya harganya akan sangat mahal. Bisa jadi angkanya menyentuh miliaran.

Di daerah Sleman, masih ada lahan. Namun, ada beberapa wilayah yang masuk kategori sabuk hijau. Artinya wilayah itu khusus untuk kawasan pertanian. Godean, Seyegan, Minggir, dan Moyudan di antaranya.

Selain itu, di Sleman sisi timur masih banyak situs bersejarah yang terkubur. Pada alhirnya jika memaksakan untuk membangun hunian di sana menjadi agak riskan.

Wilayah Kulonprogo saat ini memang menjadi incaran investasi. Itu dampak dari pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Sayangnya di beberapa tempat harga tanah keburu mahal.

Bukan hanya itu, lokasi Kulonprogo juga dirasa terlalu jauh dari pusat kota. Sebab, biasanya konsumen memilih hunian dari lokasi. Akses jalan maupun transportasi menjadi salah satu pertimbangannya.

Ketua DPD REI DIJ Rama Adykasa Pradipta pernah meminta pemerintah bisa mengembangkan konsep Transit Oriented Development (TOD). “Itu merupakan konsep pengembangan kota yang mengadopsi tata ruang campuran. Selain itu juga memaksimalkan fungsi trasportasi,” ujar Rama.

Bantul pun bisa dijadikan alternatif untuk pembangunan hunian vertikal. Namun, pengembang tentu memperhatikan bagaimana untung rugi membangun hunian vertikal di Bantul.

Sebab, lahan di Bantul bisa dikatakan masih cukup. Sehingga, pembangunan hunian rumah tapak di Bantul masih cukup banyak.

Bantul juga menjadi salah satu lokasi yang dapat digunakan untuk pemenuhan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Namun, penyediaan MBR ini sebenarnya setiap kabupaten harus ada.

Gunungkidul tentu belum banyak dilirik oleh pengembang. Kembali lagi, jarak yang terlalu jauh dari pusat kota. Sebenarnya bila mau diolah, Gunungkidul bisa menyediakan rumah model villa yang eksotis.

Sekretaris DPD REI DIJ Ilham M Nur menyebut dengan kondisi seperti itu, DIJ belum siap untuk hunian vertikal. “Risikonya masih besar,” kata Ilham.
Pembangunan hunian vertikal juga mengalami beberapa kendala. Di Sleman, masih ada moratorium apartemen dan hotel hingga 2021.

Di daerah kota Jogja, ada aturan menyangkut tinggi bangunan. Termasuk juga di Sleman. Ada satu kawasan yang disebut kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP).

Radiusnya melingkar dari bandara. Semakin dekat semakin pendek. “Yang saya tahu di sekitar Ring Road Utara paling tinggi 8 lantai, di kota Jogja kurang lebih sama atau bahkan lebih rendah lagi,” ujar Ilham.

Kondisi itu otomatis membuat nilai jual apartemen semakin mahal. “Masih bayak yang harus dipertimbangkan,” ujarnya. (har/din/fn)