Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) DIJ Dharma Setiawan angkat bicara terkait laporan Marzuki Mohammad. Dia berkilah aksi bukan dari tim BPN Prabowo-Sandi. Namun dia membenarkan aksi itu dilakukan oleh relawan Prabowo-Sandi, terutama para ibu-ibu.

Setiawan menjabarkan awal mula kejadian. Saat itu sedang ada lomba yel-yel dukungan. Selanjutnya salah satu kelompok membuat yel-yel kreatif. Modalnya lagu Jogja Istimewa yang digubah sebagian liriknya.

“Mungkin dan karena lagu Jogja Istimewa itu saking populernya, jadi nggak kepikir bahwa itu ciptaan seseorang,” kilahnya Selasa (15/1).

Setiawan menduga para relawan menganggap lagu tersebut adalah konsumsi umum. Sehingga tidak ada permasalahan saat dinyanyikan dan digubah liriknya. Hingga akhirnya ada penyematan nama Prabowo-Sandi dalam lagu tersebut.

Saat disinggung tanggal, Setiawan tidak mengingat secara pasti. Dia hanya mengingat kala itu pertemuan para relawan-relawan Prabowo-Sandi di Jogjakarta. Kegiatan hanya diisi dengan sosialisasi program maupun perkenalan para relawan.

“Tanggalnya lupa, tapi itu ada Bu Ani (Ani Hasyim Djojohadikoesoemo, Red). Pokoknya pertemuan beberapa relawan perempuan, Desember lalu,” ujarnya.
Terkait pelaporan oleh Marzuki, dia tidak mempermasalahkan. Namun dia mempersilakan adanya laporan kepolisian. Ini karena lagu itu merupakan hak cipta sang pencipta lagu.

Hanya saja secara tegas dia memastikan aksi bukan diinisiasi oleh BPN. Sehingga aksi spontanitas tersebut tidak bisa dikaitkan sebagai agenda BPN di Jogjakarta. Bahkan dia juga mengaku tidak memahami sepenuhnya agenda perlombaan yel-yel.

“Mungkin karena ada yang merekam lalu diunggah dan viral. Tidak masalah adanya laporan, karena lagu itu hak cipta penciptanya,” katanya.

Saat ditanya pendampingan hukum, dia mengiyakan. Hanya saja timnya perlu mempelajari secara lanjut pengaduan Marzuki. Sehingga bisa menyusun pendampingan hukum yang tepat. “Saya menugaskan pimpinan BPN untuk menemui pencipta lagu, kemudian kami bisa bicara dan rembug,” jelasnya. (dwi/laz/fn)