Pada saat ini generasi bangsa Indonesia perlu merefleksikan kembali bahaya AIDS yang diakibatkan pergaulan bebas. Dewasa ini penyakit HIV/AIDS yang berkembang disebabkan pergaulan bebas yang tidak terkontrol.

Pergaulan bebas ini menjadi tidak tabu lagi di negara kita. Ditambah dengan mudahnya remaja saat ini terpengaruh dengan westernisasi ketimbang melakukan modernisasi dari segi teknologi dan pendidikan sehingga hal ini pun semakin marak di Indonesia,

Pergaulan bebas anak zaman sekarang sangat membahayakan bagi generasi bangsa Indonesia. Persoalan AIDS menjadi momok yang menakutkan bagi generasi bangsa Indonesia. AIDS merupakan suatu penyakit yang mematikan yang disebabkan gejala atau akibat infeksi virus HIV, virus ini bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV), yakni virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik atau mudah terkena tumor.

Dalam kurun waktu 2007 hingga Juni 2018 Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Batang menemukan 995 kasus HIV/AIDS dengan angka kematian mencapai 156 orang. Adapun 995 kasus, 790 kasus diantaranya masih dalam fase HIV dan 205 merupakan AIDS. Hingga kini oran dengan HIV/AIDS di Kabupateng Batang di dominasi oleh perempuan dengan jumlah 624, sedangkan 371 merupakan laki-laki.

Sementara itu, penyakit AIDS di Kalangan Mahasiswa kini mendominasi jumlah penderita HIV di Yogyakarta juga. Pada tahun 2018 penyakit HIV urutan teratas di dominasi dari mahasiswa, yang sebelumnya dari kalangan swasta. Berdasarkan data Dinas Kesehatan DIY sampai pada triwulan kedua tahun 2018 sudah ditemukan 315 penderita HIV baru dengan 39 di antaranya sudah masuk ke AIDS.

Ada empat cara penularan HIV. Pertama, melalui hubungan seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa perlindungan atau menggunakan kontrasepsi (kondom). Kedua, HIV dapat menular melalui transfusi dengan darah yang sudah tercemar HIV.  Ketiga, seorang ibu yang mengidap HIV bisa pula menularkannya kepada bayi yang dikandung, itu tidak berarti HIV /AIDS merupakan penyakit turunan, karena penyakit turunan berada di gen-gen manusia sedangkan HIV menular saat darah atau cairan vagina ibu membuat kontak dengan cairan atau darah anaknya. Keempat, adalah cara melalui pemakaian jarum suntik akufuntur, jarum tindik dan peralatan lainnya yang sudah dipakai oleh pengidap HIV.

Cara mengatasi pencegahan AIDS, dapat melalui Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup. Mereka yang terdeteksi menderita HIV/AIDS akan ditangani dengan perawatan antiretrovirus (ARV) yang dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, kendatipun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua tempat.

Penyakit AIDS telah menyebar hampir seluruh dunia termasuk di Indonesia. Secara massif virus HIV ini sangat mematikan, virus epidemik HIV sangat menganggu kesehatan dan mengancam lingkungan umat manusia. Penyakit AIDS harus disadari oleh setiap manusia dan akan bahaya yang mengancam seumur hidupnya. Secara substansi, HIV merupakan ancaman nasional yang harus dicegah sejak dini, pencegahan bisa dilakukan lewat ibu yang menyusui dan mencegah ancaman terhadap penyakit tuberculosis (TB) dan HIV yang menyebabkan infeksi.

Karena itu, untuk mengatasi masalah penyakit AIDS yang hampir terjadi di beberapa daerah di Indonesia, maka upaya pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia harus meningkatkan  pencegahan dan sosialisasi bahaya AIDS epidemic pada tahun 2030 nantinya. Belajar dari HIV kita bisa menginformasikan batasan batasan yang harus diterima oleh manusia demi menjaga kesehatan, dan ini harus menjadi agenda pemerintah pada tahun 2018 dengan mengembangkan agenda untuk menyelesaikan persoalan AIDS yang terjadi di Indonesia pada masyarakat, kualitas kesehatan manusia me pemerintah, tanpa manusia manusia yang sehat berkualitas tentuanya akan menghasilkan finansial dan itu sangat penting sekali bagi pembangunan bangsa Indonesia. Semoga. (ila)

*Penulis merupakan peneliti Riskesdas Kemenkes 2018 Kabupaten Pekalongan dan  Lulusan STIKES Muhammadiyah Pekalongan.