TAHUN 2019 adalah tahun politik. Ujaran kebencian dan fitnah pada  tahun politik ini perlu disikapi secara kritis. Karena itu, Segala persoalan perpolitikan bangsa Indonesia saat ini harus disikapi dengan kepala dingin dan hati yang arif bijaksana, jangan ada politik adu domba, semua harus dapat diselesaikan dengan jalan kembali pada Bhinneka Tunggal Ika.

Nilai Bhinneka Tunggal Ika harus dijadikan sebagai petunjuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia juga diajarkan dalam Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki nilai-nilai luhur, budi pekerti, etika dan moral bagi setiap warga negara Indonesia dalam rangka merangkai rasa kedamaiaan berbangsa.

Karena itu, kekayaan isi sila tersebut mudah digali kalau kita mengingat Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia. Adalah niat bangsa Indonesia untuk mengakui kenyataan bahwa di Indonesia terdapat pelbagai macam agama dan kepercayaan yang mempunyai pokok-pokok ajaran yang berbeda. Dengan demikian, umat beragama yang hidup di Indonesia sudah semestinya mampu memaknai Bhinneka Tunggal Ika secara mendalam agar tumbuh dalam hati dan nurani dalam merajut persatuan.

Nilai Bhinneka Tunggal Ika memainkan peranan penting  untuk mendukung rasa keharmonisan berbangsa dan kerukunan beragama. Filsuf klasik abad pertengahan, Auguste Comte, mengatakan bahwa agama itu mengajarkan cinta kasih pada manusia. Lebih tepatnya agama kemanusiaan, yang menebarkan benih-benih kasih sayang pada sesama umat manusia. Comte, menjelaskan agama yang berbasis pada cinta manusia inilah yang akan  memulihkan keseimbangan dan keintegrasian baik dalam diri pribadi individu maupun dalam masyarakat. Dalam hal ini nilai-nilai kerukunan beragama akan bisa diejawantahkan bila umat beragama selalu menggunakan nalar humanitas, sehingga dapat terhindar dari sikap kekerasan, dan konflik sosial keagamaan.

Nilai-Nilai Bhinneka Tunggal Ika merupakan kepribadian Bangsa Indonesia, yang memiliki banyak agama dari Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindhu, Budha dan Konghucu. Dengan melihat kemajemukan beragama ini, maka Sila pertama Ketuhanan  Yang Maha Esa menjadi sumber utama bagi terwujudnya nation state, untuk melahirkan sebuah persatuan kesatuan. Agama menjadi sumber dari sumber pembentukan sebuah nation state.

Pernyataan diatas dipertegas oleh Presiden RI Soekarno,  yakni ketika Soekarno menguraikan pancasila, di dalam pancasila, pluralitas agama-agama diakomodasi, tetapi sekaligus diatasi sehingga dimensi partikularitas yang dapat menyebabkan perpecahan, konflik dan disharmoni dapat diatasi sementara negara sebagai sebuah entitas baru yang universal dan netral bagi semua golongan tetap muncul.

Dengan adanya nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dan pancasila seluruh peleburan tiap-tiap agama menjadi hilang. Setiap ego dan fanatik, kebenaran klaim agama harus dihilangkan sehingga harus menggunakan rasa kebangsaan, dengan begitu akan tercipta kehidupan yang menghargai antar sesama . Di mana nalar yang digunakan untuk mencapai kerukuan beragama, ukuranya terletak pada merasa sebagai warga negara Indonesia yang memiliki nasib yang sama untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih baik.

Karena itu, pada tahun 2019 kita harus memiliki sikap hidup menciptakan kerukunan umat, kesatuan dan persatuan bangsa, dapat terwujud dengan adanya keamanan, kemampuan semua komponen bangsa dan kemampuan mengendalikan diri dari sikap ucapan dan perbuatan yang tidak menyinggung dan merugikan orang lain. Karena itu, kerukunan umat sejatinya bisa dilandasi dengan semangat nilai-nilai pancasila, yang di sana juga ada sila kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan dan kesatuan ,keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila-sila tersebut itu menegaskan umat beragama untuk selalu hidup atas dasar nurani kerukunan.

Setidaknya ada beberapa faktor sebagai upaya dalam mewujudkan nilai-nilai kerukunan umat pada tahun politik 2019.  Pertama, melalui kerukunan beragama tidak cukup hanya dengan ajaran agama secara umum. Akan tetapi, juga dibutuhkan pendukung kerukunan beragama yakni Bhinneka Tunggal Ika. Dalam falsafah pancasila tersebut mengandung banyak muatan dan nilai-nilai luhur secara alamiah yang diturunkan dari budaya nusantara, yang sejatinnya mampu memupuk rasa keharmonisan. 

Kedua,  dengan ada pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia, tentunya umat beragama di Indonesia juga harus dan bahkan wajib mengamalkan dan mengimplementasikan secara praksis dalam kehidupan beragama antar pemeluk agama yang lain. Sehingga dengan mengimplementasikan nilai pancasila akan dapat dicegah yang namannya benih-benih kebencian antara umat beragama yang satu dengan yang lain.

Dengan demikian, Pada tahun  politik 2019 ini nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika perlu dibangkitkan kembali dalam upaya merajut kerukunan dan keharmoisan umat yang terkoyak akibat adanya berita hoaks, fitnah dan prasangka buruk. Karena itu, Peranan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika sangat berarti bagi pertumbuhan manusia Indonesia sehingga menghasilkan rasa persaudaran, perdamaian, hidup rukun berdampingan.

Itu inti nilai Bhinneka Tunggal Ika untuk menyemaikan persatuan, persaudaraan dan kesatuan bangsa. Bhinneka Tunggal Ika memiliki relevansi yang sangat tepat sekali saat ini sebagai upaya merangkasi rasa kebangsaan, rasa keharmonisan berbangsa dan bernegara. Semoga.

*Penulis adalah peneliti dan alumnus Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM Jogjakarta.