Kapolda DIJ Irjen Pol Ahmad Dofiri tak pernah absen mengelilingi wilayah tugasnya. Kunjungannya ke rumah nenek Wagiyem di Dusun Ngasem, Getas, Playen, Gunungkidul Jumat (4/1) lalu viral. Berikut oleh-oleh yang diperolehnya dari Bumi Handayani.

DWI AGUS, Gunungkidul

POLISI tak hanya bertugas menangkap penjahat. Tapi juga harus memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungannya. Lewat kegiatan sosial. Demi membantu sesama. Itulah tutur kata yang selalu ditekankan Ahmad Dofiri kepada seluruh jajarannya. Kunjungan ke rumah Wagiyem salah satu contohnya. Yang menjadi viral. Di media sosial.

Beredar video saat Dofiri mendatangi gubug kecil yang dihuni Wagiyem. Meski terkendala bahasa komunikasi, Dofiri tampak dengan seksama mendengarkan penuturan Wagiyem. Beberapa kali kepalanya tampak mendekat ke wajah Wagiyem. Untuk mendekatkan telinganya. Ke mulut nenek renta itu.

“Saat itu ada bakti sosial pelayanan kesehatan lansia. Ternyata ada seorang nenek yang tidak bisa datang langsung. Sehingga kamilah yang mendatangi rumahnya. Lihat kondisinya,” ungkap Dofiri Rabu (9/1)

Kehadiran Dofiri sempat tak disadari oleh Wagiyem. Sang nenek sempat mengira Dofiri adalah seorang polisi biasa. Dia sadar akan sosok tamunya setelah ada seseorang membisiki telinganya.

Wagiyem tidak menyangka seorang jenderal bintang dua bersedia mendatangi gubugnya. Saking bahagianya, Wagiyem berulang kali mengucapkan terima kasih. Dan mendoakan sang jenderal. Tangan rentanya pun beberapa kali menepuk pundak Dofiri. Dofiri sendiri menempatkan dirinya ibarat seorang anak yang menjenguk orang tuanya. Sejenak dia melepaskan jabatannya sebagai Kapolda DIJ.

Keberadaan Wagiyem menjadi contoh konkret. Akan pentingnya kepedulian. Terhadap sesama. Agar polisi juga terjun ke bawah. Tak hanya melihat. Tapi membantu. Sesuai kemampuan.

“Kepedulian seperti ini harus terus dibangun. Seperti nenek Wagiyem ini, harus diperhatikan. Bagaimana kebutuhan harian dan kesehatannya,” tutur Dofiri.

Dofiri merasa semakin iba dan empati. Setelah mendapat informasi soal Wagiyem. Yang tinggal seorang diri. Bahkan untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari dia tak bisa sendiri. Mengandalkan sokongan saudara dan tetangga kanan kiri. Dia pun trenyuh. Saat berbincang dengan Wagiyem.

Tanpa disangka Dofiri mendapatkan banyak pitutur dari nenek Wagiyem. Mengeluh tidak akan menyelesaikan sebuah masalah. Hidup untuk selalu bersyukur. Atas karunia Yang Maha Kuasa. Bahkan tidak menyerah meski usia dan tubuh terus menua.

“Mbah Wagiyem sudah lansia, tapi terlihat sangat bersemangat. Bukti bahwa hidup harus terus bersemangat,” ujarnya.

Dofiri juga sempat berkumpul dengan lansia lain. Sebelum menyambangi rumah Wagiyem.

Semua lansia tampak bersemangat. Meski harus berjibaku melewati perbukitan terjal. Untuk berkumpul di sebuah lapangan dusun. Untuk sekadar menyapa sang Kapolda.

Semangat para lansia itulah yang ingin dia contohkan. Kepada jajarannya. Sekaligus mewujudkan jargon kepolisian. Dalam bentuk nyata. Polisi tak sekadar melindungi. Tapi mengayomi seluruh masyarakat.

“Ada pelajaran yang bisa dipetik saat berbincang-bincang. Belajar tentang makna kehidupan dari para lansia. Menjadi pelajaran bagi kita yang muda-muda dalam mengisi dan memaknai hidup,” paparnya. (yog/fn)