Pertumbuhan penduduk di Sleman yang tinggi sangat berkaitan dengan sektor pendidikan dan pariwisata. Sebab, hampir semua universitas negeri ada di Sleman. Hal itu menjadikan banyak masyarakat luar daerah yang menyerbu Sleman untuk menempuh pendidikan.

Mahasiswa luar daerah ini tentu menyumbang tingkat kepadatan penduduk.kondisi ini lantas dimanfaatkan oleh pemain properti untuk mendirikan kos-kosan dua lantai atau bahakan tiga lantai. Itu untuk memenuhi kebutuhan hunian para mahasiswa.

Kondisi ini lantas tidak semerta-merta membuat para pemain perumahan tinggal diam. Selain membangun kos eksklusif yang statusnya hanya menyewa, pengembang lebih memilih untuk membangun apartemen. Dengan model kamar yang hampir serupa namun ditawarkan dengan status kepemilikan. Walaupun pada praktiknya nanti bisa disewakan.

Dari tahun 1996 hingga 2019 ini, sudah ada 13 apartemen di Sleman. Baik itu yang sudah berdiri maupun yang masih dalam tahap pembangunan. Khusus 2019 ini lima apartemen dibangun. “Bahkan hingga 2021 akan ada 15 apartemen yang sudah beroperasi, ditambah dua apartemen dalam tahap perizinan, totalnya 17. Nanti Sleman akan ramai apartemen,” ujar dosen Prodi Perencanaan Wilayah Kota (PWK) UGM R Widodo Dwi P.

Lebih lanjut, dari kajiannya, rata-rata tingkat keterjualan apartemen yang telah beroperasi di Sleman mencapai 90,21 persen. Itu dari data enam apartemen yang telah dia survei. Meliputi, Apartemen Sejahtera, Mataram City, Student Castle Apartement, Student Park Hotel Apartement, V Apartement (alpha tower) dan Uttara The Icon.

Berdasarkan datanya, Apartemen Sejahtera yang telah beroperasi sejak 1996 menduduki tingkat keterjualan tertinggi. Yaitu 100 persen. Sedangkan Uttara The Icon baru terjual sebanyak 70,36 persen. “Dari keenam apartemen itu, Uttara The Icon harganya paling tinggi yaitu Rp 27,287 juta per meter persegi,” bebernya.

Widodo pun mengamini jika nantinya apartemen bisa semakin umbuh subur. Itu mengingat pertumbuhan penduduk lebih besar dibanding pertumbuhan hunian. Dari tahun 2014-2016 rata-rata pertumbuhan penduduk 1,13 persen sedangkan pertumbuhan hunian hanya 0,75 persen. Sehingga masih ada selisih 0,37 persen.

“Dengan selisih 0,37 persen maka ada peluang untuk hunian jenis lain dalam memenuhi kebutuhan hunian masyarakat Sleman. Paling tidak potensi yang dapat dipenuhi dari penyediaan hunian tingkat tinggi sebesar 65 unit,” urainya. (har/din/fn)