SLEMAN – Pengguna jalan yang melintasi Perempatan Tajem hingga Dusun Babadan, Wedomartani, Ngemplak dituntut berhati-hati. Terutama pada malam hari.

Sebab jalan itu saat malam minim penerangan. Selain itu, arus lalu-lintas hingga malam masih ramai.

Rendy Febrianto, 24, warga Dusun Jangkang, Widodomartani, Ngemplak mengaku khawatir jika melintas di Jalan Raya Tajem. Terutama malam hari.
Sebab lampu penerangan jalan belum maksimal. “Hanya mengandalkan lampu penerangan rumah warga,” ujar Rendy (8/1).

Pantauan Radar Jogja, di jalan tersebut tidak ada lampu penerangan yang dipasang pemerintah. Padahal, jalur itu merupakan jalan alternatif ke berbagai kecamatan di Sleman. Juga sebagai jalan alternatif ke Magelang.

Rendy menambahkan, kondisi jalan yang lurus terkadang membuat pengendara terlena. Bahkan tidak jarang memacu kendaraannya dengan lebih kencang.
Padahal, selain dilintasi roda dua, ada juga roda empat dan truk pengangkut pasir. Jika kondisi hujan, jalan tersebut sangat licin. Tidak jarang ada kendaraan yang tergelincir. “Ditambah kiri-kanan masih banyak pohon besar,” ujar Rendy.
Jumirin, warga Dusun Pokoh, Wedomartani, Ngemplak menjelaskan, kondisi itu telah berlangsung lama. “Tidak dipasang lampu penerangan,” kata Jumirin.

Pria yang berprofesi sebagai penjual angkringan sejak 2010 itu menuturkan, lokasi di depan warungnya sering terjadi kecelakaan. “Banyak (kecelakaan), bukan hanya malam. Siang juga banyak, karena jalannya lurus,” ujarnya.

Kondisi jalan yang gelap juga sangat berpotensi memicu tindak kriminal. Apalagi saat ini di Sleman kerap terjadi aksi klithih yang meresahkan. “Memang kalau kriminal tidak, tapi kecelakaan banyak,” katanya.

Sebelumnya Polres Sleman telah membuat Satgas Progo Sakti untuk mencegah klithih. “Hampir sama dengan Progo Sakti di Polda DIJ hanya lingkupnya wilayah Polres Sleman,” kata Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah. (har/iwa/fn)