PURWOREJO – Warga Dusun Sudimoro, Bapangsari, Bagelen, Purworejo, meminta penambangan yang dilakukan PT Sekawan Bayu Perkasa (SBP) di wilayahnya dihentikan Selasa (8/1). Tidak seluruhnya, hanya beberapa bidang tanahnya, karena pihak perantara pembelian tanah yang ditambang belum melunasi pembayaran.

Dalam aksi tersebut warga membawa dan memasang atribut bernada protes. Isinya permintaan penghentian penambangan sebelum hak warga dipenuhi. Satu protes lagi yang diwujudkan dalam poster adalah warga merasa terganggu adanya penambangan itu.

Salah seorang pemilik tanah, Sariyanto, 60, warga RT 2 RW 8 mengatakan, ada enam bidang tanah yang dibeli PT SBP melalui seorang perantara bernama Agung Sunaryo. Masing-masing yakni atas nama Sumilah sekitar 5.500 meter persegi, Sutrisman 10.050 meter persegi, Hartono 10.815 meter persegi yang dimiliki tiga orang (Tri Rahayu, Suroso, dan Rahmat Widodo), Akhmad Kolil 1.000 meter persegi, Sariyanto 14.080 meter persegi, dan Sarminah 5.928 meter persegi.

“Kalau ditotal sampai 47, 373 meter persegi. Dulu dibeli dengan harga Rp 100 ribu per meter,” kata Sariyanto. Pihak pembeli tidak melakukan pembayaran lunas namun memberikan uang muka yang jumlahnya bervariasi. Sebagian besar uang muka yang diberikan 40 persen. “Nah sejak saat itu kami dijanjikan mau dilunasi, tapi mundur-mundur terus. Terakhir janji mau dilunasi 10 Januari 2019,” lanjutnya.

Saat dilakukan transaksi jual beli, ada kesepakatan jika tanah tidak boleh ditambang sebelum dibayar lunas. Namun kesepakatan ini ternyata tidak berjalan, karena PT SBP melakukan penambangan di sebagian bidang tanah. Aksi pertama dilakukan 20 Desember 2018 dan kembali ada kesepakatan untuk pelunasan.

Sariyanto meminta PT SBP tidak melakukan penambangan sebelum kesepakatan dipenuhi. Jika mereka nekat, warga siap melakukan aksi lebih besar lagi. Rencananya mereka akan melibatkan warga dusun di Kalimaro yang selama ini merasa terganggu oleh bisingnya suara mesin.

Kepala Dusun Kalimaro Jumari membenarkan hal itu. Warganya yang berada tidak jauh dari lokasi sering terganggu bising suara mesin, tetapi tidak pernah mendapat kompensasi. “Suara alat berat sangat mengganggu. Tidak hanya siang, mereka juga beroperasi di malam hari,” katanya.

Dari pihak PT SBP, Bambang Jatmiko mengungkapkan memang ada penambangan di sebagian bidang tanah warga. Permasalahan antara warga dengan pihak perantara tidak diketahuinya.

“Agung Sunaryo yang jadi perantara tidak pernah menunjukkan tempatnya secara persis. Selain itu kami juga mendapatkan target dari PT Angkasa Pura untuk menyuplai material pembangunan bandara,” kata Bambang. Soal tuntutan ganti rugi warga, pihaknya mengaku siap memberikan hal itu. (udi/laz/fn)