SLEMAN – Kasus kematian akibat melintas di atas rel kereta sering terjadi di Sleman. Biasanya mereka melintas di jalur tanpa palang pintu. Atau melintas di perlintasan sebidang.

Kabid Lalu Lintas, Dinas Perhubungan (Dishub) Sleman, Sulton Fatoni menjelaskan, perlintasan sebidang merupakan perpotongan antara jalur kereta api dengan jalan. “Di Sleman ada 27 perlintasan sebidang dari Gamping hingga Prambanan,” kata Sulton (8/1).

Dikatakan, dari 27 perlintasan sebidang yang ada di Sleman, sekitar empat perlintasan tidak berpalang pintu. Masih banyak ditemukan pelintasan yang dibuat mandiri oleh masyarakat. “Itu ilegal,” ungkap Sulton.

Sebab masyarakat menilai akses terdekat untuk ke seberang rel merupakan jalur yang secara bebas dapat dilintasi. Padahal ancaman nyata adalah saat melintasi jalan ilegal alias jalan yang dibuat sendiri.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah memasang rambu dengan jarak 200 meter dari perlintasan sebagai tanda awal. “Sejauh 50 meter sebelum perlintasan kami juga memasang. Dan pas perlintasan kami juga memasang rambu,” kata Sulton.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadi kecelakaan di perlintasan sebidang. Salah satunya, rendahnya kesadaran masyarakat mengindahkan peraturan.
“Masih banyak yang asal melintas dan menerobos palang. Padahal kami setiap tahun telah melakukan sosialisasi,” ujar Sulton.

Dishub Sleman telah melakukan survei ke lokasi. Banyak ditemukan perlintasan sebidang yang tidak sesuai fungsi kelas jalan. Selain itu, masih ada rambu yang tidak lengkap.

“Solusinya kami tutup. Seperti di Janti itu. Tentu sebelumnya juga berkoordinasi dengan PT KAI Daop VI,” kata Sulton.

Dalam UU 23/2007 tentang Perkeretaapian disebutkan, setiap orang dilarang berada atau melakukan aktivitas di rel KA. “Jadi jika ada alasan mau menyeberang jelas salah. Karena rel KA bukan jalan umum,” kata Humas PT KAI Daerah Operasi (Daop) VI, Eko Budiyanto.

Saat ini, kata Eko, rata-rata kereta melaju dengan kecepatan tinggi. Rata-rata kecepatan kereta untuk lintas Solo-Jogjakarta berkisar di angka 90 km per jam. Dalam sehari ada sekitar 170 lebih kereta yang melintas.

Pihaknya mengimbau masyarakat jangan melakukan aktivitas di rel kereta. Selain berbahaya juga berpotensi mengakibatkan kerusakan.

“Selain itu, mengganggu perjalanan KA akan mendapat hukuman dan diminta ganti rugi,” kata Eko. (har/iwa/fn)