SLEMAN – Satresnarkoba Polres Sleman melakukan jemput bola melakukan pencegatan peredaran ke Jogjakarta. Terbaru, penangkapan dua pengedar asal Surakarta dan Boyolali.

Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah memastikan, pemberantasan peredaran narkotika tidak mengenal wilayah. Sehingga jajarannya bisa sampai Surakarta dan Boyolali. Timnya menyita 33 gram sabu seharga Rp 39,6 juta.

“Tersangka inisial EN (Eni Noviani) ditangkap di Kartosuro. Sementara tersangka inisial Ju (Jumadi) ditangkap di Boyolali. Ditangkap 5 Januari 2019,” jelas Rizky (8/1).

Kasatresnarkoba Polres Sleman, AKP Tony Priyanto mengungkapkan, kedua tersangka adalah bandar besar. Dari keduanya disita sabu di atas 5 gram. Sebanyak 26 paket sabu paket hemat disita dari Eni Noviani, sementara dari Jumadi, Polisi menyita 14 paket sabu.

Penangkapkan berawal dari pengintaian kepada Eni. Perempuan 35 tahun itu ditangkap saat berkunjung ke Rutan Surakarta. Kedatangannya untuk menjenguk suaminya. Total sabu tersebut dibagi dalam paket 1 gram dan setengah gram.

“Untuk harga per gramnya Rp 1,2 juta. EN punya 23,86 gram. Jadi memang dibagi dalam paket satu gram dan setengah gram. Untuk mengedarkan memanfaatkan operator dan kurir. Teknisnya taruh alamat,” kata Tony.

Penangkapan pukul 14.00 berkembang dengan munculnya nama Jumadi. Berselang dua jam, pria usia 26 tahun ini dibekuk di Boyolali. Polisi berhasil menemukan total 14 paket sabu dengan berat 9,68 gram.

Keduanya terlibat dalam jaringan sama. Metode penjualan juga mirip, taruh alamat. Tujuannya meminimalisasi pertemuan pengedar dan pemakai. Agar tidak terlacak polisi.

“Keduanya kami kenai Pasal 114 berupa pidana mati atau penjara seumur hidup dan denda Rp 1,3 miliar,” tegasnya.

Tony memastikan jajarannya tidak ingin kecolongan. Jogjakarta menurutnya kerap menjadi sasaran peredaran narkotika paket hemat. Dari keseluruhan kasus, mayoritas berasal dari luar Jogjakarta. Itulah mengapa dia melakukan jemput bola ke luar wilayah Jogjakarta. (dwi/iwa/fn)