SLEMAN – Jogjakarta menjadi destinasi paling digandrungi saat ini. Industri pariwisata yang memiliki banyak turunan, seperti restoran, hotel, biro perjalanan, dan pelaku wisata lainnya pun bersinergi untuk mengembangkan pariwisata di DIJ.

Perwakilan pelaku pariwisata di DIJ merasa khawatir dan dirugikan dengan adanya pemuatan berita berjudul Tergiur Fee, Rela Jadi Agen Promosi karena memberikan efek yang kurang baik kepada tamu berikutnya. Terlebih sinergi di antara para pelaku wisata bentuknya bermacam-macam, namun tak satupun yang merugikan konsumen maupun wisatawan.

”Pemuatan jumlah fee bagi driver, pengemudi becak, dan andong, serta pelaku wisata lainnya kami anggap terlalu vulgar, karena tujuan pelayanan jasa kami bukan seperti itu. Dengan begitu, ada pihak-pihak yang dirugikan dan akan berdampak pada pelaku wisata lainnya. Kami takut efeknya pada tamu berikutnya. Ada kekhawatiran mereka nggak akan datang dan beli lagi,” ujar Ketua Umum Insan Pariwisata Indonesia (IPI) Pradiyanto Datu Jatmiko atau yang akrab disapa Jalu saat datang ke kantor Radar Jogja sELASA (8/1).

Jalu mengatakan, pelaku wisata di DIJ berusaha menciptakan iklim pariwisata yang sehat. Pihaknya pun berharap saat ada pemberitaan tentang bencana juga disikapi dengan bijak. Sebab, hal itu bisa memberikan efek terhadap dunia pariwisata.

Humas DPP Perkumpulan Wisata Indonesia (PWI) Gading Widodo Aryawan menambahkan, informasi fee yang diterima oleh pelaku wisata justru menimbulkan tanda tanya di kalangan wisatawan. Padahal, antara pemilik toko oleh-oleh dan driver, tak ada MoU. Kalaupun mereka mendapatkan tambahan penghasilan, itu sifatnya hanya tali asih atau ucapan terima kasih. ”Tidak lantas ada perjanjian antara pelaku wisata,” tegasnya.

Senada, Ketua IPI DPD DIJ Ahmad Agus Nuril Huda, mengungkapkan, mereka bekerja di bisnis jasa pelayanan. Sehingga para driver, kusir andong, dan pengemudi becak akan mengantar wisatawan ke tujuan yang diinginkan. ”Kami hanya sebatas memberikan informasi lokasi-lokasi tempat yang akan dituju wisatawan, seperti jarak lokasi atau produk andalan yang ada di sana. Tidak ada paksaan dari kami untuk harus mengunjungi lokasi tertentu. Karena jika wisatawan meminta diantar ke suatu tempat, pastilah akan kami antar ke lokasi tujuan yg diinginkan.” tandasnya.

Perwakilan Restoran Budiyana menambahkan, adanya informasi fee bagi driver itu memberikan impresi yang kurang baik terhadap pariwisata di Jogjakarta. Sebab, hal itu bukan tujuan utama dalam memberikan pelayanan ke wisatawan. Dia pun memberikan saran untuk lebih banyak menampilkan potensi wisata yang ada di DIJ, termasuk Sapta Pesona Pariwisata serta wisata tradisional dan budaya yang menjadi ciri khas Jogjakarta.

”Banyak yang mengincar Jogja sebagai tujuan wisata, baru kemudian disusul Bandung dan daerah lain. Tahun lalu pendapatan dari sektor wisata bisa mencapai tiga kali lipat. Itu membuktikan bahwa wisata di Jogjakarta sangat potensial,” jelasnya. (ila/zam/fn)