JOGJA – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar wisuda para para abdi dalemnya. Wisuda kali ini dikuti 94 abdi dalem Keprajan dan 168 abdi dalem Punakawan. Dari ratusan abdi dalem yang diwisuda, terdapat Waki Wali Kota Heroe Poerwadi (HP).

Pengageng Tepas Dwarapura Keraton Ngayogyakarta KRT Jatiningrat mengatakan, penyerahan surat kekancingan untuk para abdi dalem yang diwisuda dilakukan oleh KPH Wironegoro dan KPH Notonegoro. Sedangkan Sultan HB X diwakili GKR Condrokirono.

Dalam wisuda ini, Heroe Poerwadi mendapat nama baru dari Keraton Jogja yaitu Mas Rio Projopoerwadi. HP mengaku sebelum diangkat menjadi abdi dalem, ia melakukan pengajuan terlebih dahulu.


SEMRINGAH: Sejumlah abdi dalem membeli foto dokumentasi seusai mengikuti prosesi wisuda di kompleks Keraton Jogja, Senin(7/1). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

Setelah itu, mantan wartawan ini kemudian menjalani beberapa tes seperti membaca dan menulis aksara Jawa. Dia juga perlu mengamalkan beberapa persyaratan dari Keraton Jogja selama tiga hari.

Untuk menjadi abdi dalem, HP juga diminta mempelajari filosofi Keraton secara detail. Ia juga harus belajar tentang paugeran dan tata cara berpakaian ala abdi dalem Keraton Jogja. Ia mengaku pengajuannya menjadi abdi dalem adalah bentuk upaya untuk melestarikan budaya Jawa.

“Di pemerintahan nanti, kami akan membangun Kota Jogja menjadi lebih nyaman, berdaya saing kuat dan memberdayakan masyarakat tapi dasarnya adalah nilai-nilai keistimewaan,” ujar suami dokter gigi ini.

KRT Jatiningrat mengatakan, dengan disandangnya gelar baru Heroe Poerwadi juga merupakan tugas tambahan bagi wawali Jogja itu. “Beliau harus bisa menjaga keistimewaan Jogja selain menjalankan tugas pemerintahannya,” katanya.

KRT Jatiningrat menjelaskan, Keprajan adalah gelar abdi dalem yang disandang oleh orang yang bekerja di pemerintahan, seperti pejabat hingga kepala desa dan guru. Walau tidak berada di lingkungan keraton, para abdi dalem Keprajan harus bisa membagi waktunya untuk kepentingan di keraton.

Dikatakan, selain itu derajat abdi dalem Keprajan juga lebih tinggi dari abdi dalem Punakawan. “Maka dari itu abdi dalem Keprajan punya beban yang lebih berat, yaitu harus bisa menjadi contoh bagi masyarakat, bukan memberi contoh,” ujarnya. (cr5/laz/fn)