SLEMAN – Banyak orang tidak mengira Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah masuk jajaran komisaris di PT PSS Sleman. Pimpinan Pesantren Ora Aji ini tergerak untuk ikut menjadi bagian dari PSS Sleman karena sepak bola dapat melebur perbedaan agama atau pilihan politik.

“Kalau ada pemain mencetak gol, langsung bersorak gembira, tidak menanyakan agamanya apa, kafir atau tidak,” tuturnya Minggu (6/1).
Dalam rangka memahami dunia persepakbolaan, dia bahkan sempat berkeliling Eropa menemui beberapa klub. Dia melihat bagaimana klub di sana benar-benar dapat memapankan industrinya sehingga menjadi alat pemersatu bangsa. “Bukan justru menjadi ajang kerusuhan,” jelasnya.

Ia pun menyoroti persepakbolaan di Indonesia yang kini sedang digoyang dengan isu pengaturan skor. Salah satu yang menjadi fokusnya nanti yakni mengenai pengelolaan sumber daya manusia. “Seharusnya jika sumber daya manusia dikelola secara bersih dan jujur, tidak ada itu match fixing,” jelasnya.

CEO PT PSS Sleman Seokeno berharap dengan masuknya PSS Sleman di Liga 1 dapat meredam ketegangan dengan tim lain di Jogja. Sebab, jika kastanya sudah beda, jelas sudah tidak berhadapan langsung lagi. Namun, dia tetap mengusulkan berbagai mekanisme keamanan untuk menanggulangi kerusuhan.
Ia juga menjelaskan,masuknya Gus Miftah ke jajaran komisaris karena pihaknya membutuhkan. “Ia mampu menguatkan kami terutama dari segi spiritualitas,” jelasnya.

Sedangkan mengenai komisaris utama, tetap akan dipegang oleh Bambang Sukmonohadi. Selain itu, akan ada beberapa penambahan departemen yang menangani beberapa bidang, seperti riset, pengembangan, dan teknik. (cr10/din/fn)