JOGJA – Pahargyan Dhaup Ageng Pakualaman hari kedua tadi malam (6/1) tak kalah meriah dengan Pahargyan pertama. Dari 2.040 undangan yang disebar, hadir sekitar empat ribu orang. Tamu undangan merupakan tokoh-tokoh masyarakat, seniman, dan budayawan.

Hingga pukul 21.00 antrean tamu untuk bersalaman dengan kedua mempelai BPH Kusumo Bimantoro dan Maya Lakshita Noorya masih mengular dari Bangsal Sewatama hingga menyentuh jalan Sultan Agung.

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) sempat dikabarkan positif hadir pukul 19.00. Tapi kehadirannya hanya sebatas kabar. Bukan JK justru ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso yang hadir.
Meski Wapres tidak hadir, Wakil Presiden RI kesebelas Boediono hadir sekitar pukul 18.50. Dia sangat mengapresiasi Dhaup Ageng yang budaya Jogjanya terasa sekali. “Sukses, bahagia dan memberikan kontribusi bagi bangsa kita, selamat kepada kedua mempelai,” ucapnya singkat.

Sementara itu di antara para seniman dan budayawan yang diundang, tampak hadir Djoko Pekik, Sundari Sukoco, Yati Pesek, Dalijo, Indro ‘Warkop’, Djaduk Ferianto dan lain-lain. Indro diketahui merupakan teman karib KGPAA PA X.“Untuk mas Suryo dan mbak Shita semoga kalian akan rukun, akan berbahagia terus sampai kakek nenek dan hanya maut yang bisa memisahkan kalian, semoga kalian bisa seperti itu, berbahagialah,” kata Indro.

Para tamu undangan bersalaman dengan kedua mempelai. (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

Sedangkan Djaduk mengaku sangat berbahagia karena para pelaku seni dan budaya diundang dan sama-sama merayakan Dhaup Ageng ini. Menurut dia yang ditampilkan dalam Dhaup Ageng merupakan sebuah peristiwa yang sudah langka. Apalagi menyangkut Pakualaman. “Banyak repertoar dan seni yang jarang dimainkan, misal biasanya Lawung Ageng ini Lawung Alit, jarang orang lihat,” jelasnya.

Djaduk berharap perhelatan sakral itu juga bisa menjadi peristiwa kebudayaan. Tidak hanya seni namun juga perilaku. “Mudah-mudahan bisa menginspirasi siapapun,” tuturnya.

Para tamu dihibur dengan dua tarian, dibuka dengan Beksan Lawung Alit. Merupakan perkembangan dari Lawung Ageng yang diciptakan oleh NgDISKS Hamengku Buwono I. Dengan gagah namun halus atau madya, Beksan Lawung Alit ditarikan oleh delapan laki-laki. Menggambarkan semangat prajurit yang berlatih perang.Sedangkan hiburan terakhir ditampilkan tari Golek Prabudenta. Diiringi gendhing Puspadenta, delapan penari puteri mengekspreaikan keceriaan dalam tarian ini. (tif/pra/fn)