JOGJA – Berkembangnya zaman menuju era digital, global, dan tanpa batas, kerap kali bersinggungan dengan nilai-nilai tradisional budaya. Budaya dan bahasa Jawa misalnya. Harus selalu dilestarikan. Tujuannya, agar keberadaannya tidak hilang ditelan zaman.

Kegelisahan itu pula yang selalu mendorong seniman dan budayawan Akhir Lasono, agar budaya Jawa tetap eksis. “Harus disadari bahwa itulah (budaya Jawa) kekayaan kita, terlebih bagi bangsa Indonesia,” ujar Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LSBO PWM) DIJ saat ditemui Radar Jogja, Sabtu (5/1).

Menurut dia upaya pelestarian budaya dan sastra bahasa Jawa terus dilakukan. Tak hanya dilakukan pemerintah, tapi juga para kreator budaya, seniman, hingga lembaga pendidikan.

Dia berpendapat, bagi kalangan muda milenial, sastra dan budaya Jawa mungkin terkesan tidak seksi. Namun, baginya ada beberapa cara yang bisa membuat budaya Jawa diminati kaum muda. “Harus ada cara yang kreatif untuk mengkolaborasikan budaya tradisional Jawa lewat unsur-unsur kekinian,” tuturnya.

Beberapa gagasan kreatif itu pun diakui telah dilakukan oleh Akhir. Bahkan sejak delapan tahun terakhir. Dia pernah menyelenggarakan pagelaran ekstrem konsep geguritan. Jika biasanya geguritan dibawakan dengan penampilan sesuai pakem Jawa, maka Akhir memodifikasinya. Tanpa mengabaikan nilai tradisional yang sudah ada. Yakni dengan memberi ruang kepada anak muda untuk memilih konsep mereka sendiri dalam membawakan geguritan. “Untuk menarik minat pemuda agar tumbuh rasa cinta pada bahasa Jawa,” katanya.

“Membawakan geguritan tidak harus selalu menggunakan jarit, blangkon, dan selop. Tapi bisa juga mengenakan celana jeans atau gaya-gaya yang lebih dinamis,” lanjutnya. Begitu pula dengan iringan musik pada pagelaran geguritan. Bisa diganti dengan iringan jazz atau dangdut.

Tak hanya itu, sebagai salah seorang seniman yang aktif di bidang penyiaran, penanaman budaya Jawa juga dia lakukan melalui media radio. Beberapa program radio yang dikelolanya pun tak lepas dari nilai-nilai pelestarian bahasa Jawa. Seperti macapat, kaweruh pekeliran, kaweruh pedalaman, ketoprak, hingga gending-gending campursari.

Meskipun begitu Akhir tetap memberi apresiasi tinggi pada Pemprov DIJ beserta dinas-dinas terkait atas upaya mempertahankan budaya Jawa.
Akhir juga berharap kian banyak pihak dan masyarakat yang terlibat dan bekerja sama melestarikan budaya Jawa. Termasuk di dalamnya yakni menjaga eksistensi bahasa dan sastra Jawa. Sehingga, dia optimis dibukanya bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) April ini menjadi peluang besar memperkenalkan budaya Jawa pada dunia.

“Itu akan menjadi nilai tambah bagi Jogjakarta,” kata Akhir. Sebab, wisatawan mancanegara (wisman) tak hanya bisa menikmati suasana Jogjakarta, tapi juga nilai-nilai tradisinya. Layaknya negara Jepang. “Kalau sekadar ngopi di kafe, saya rasa negara lain sudah bisa ditemukan. Tapi akan menjadi unik jika wisman bisa ikut memahami budaya Jawa langsung di Jogjakarta,” tambah Akhir. (**/cr9/pra)