SLEMAN – Sepanjang 2018, Perum Bulog Divre DIJ menyerap sekitar 24 ribu ton beras dari petani. Namun, serapan tersebut terbilang masih rendah. Tidak memenuhi target. Sebab Bulog menargetkan serapan beras 40 ribu ton.

Banyaknya beras yang tidak terserap Bulog tersebt akibat harga cenderung tinggi. Selain itu, permintaan beras luar daerah tinggi membuat beras dari DIJ lebih banyak terserap ke luar daerah.

Kepala Perum Bulog Divre DIJ, Akhmad Kholisun mengatakan, pihaknya tidak bisa memaksa petani menjual berasnya pada Bulog. “Namanya beras. Akan dijual kepada penawar tertinggi,” ujar Kholisun di sela Peluncuran Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga Beras Medium di Gudang Perum Bulog Divre DIJ, Kalasan (3/1).

Dikatakan, saat ini harga beras yang ditawarkan pemerintah Rp 8.030 per kg. Itu untuk beras medium kualitas standar. “Kalau harga standarnya Rp 7.300 per kg. Tapi kami tambah 10 persen,” kata Kholisun.

Pascalibur Natal dan Tahun Baru 2019 (Nataru), harga beberapa bahan pokok cenderung naik. Namun kenaikan tidak tinggi.

Beras contohnya. Dari data Bulog DIJ, harga beras di pasaran mengalami gejolak Rp 500 hingga Rp 1.000 per kg. “Januari 2019 masih musim paceklik. Sehingga harga beras sedikit naik,” kata Kholisun.

Dia melihat, cuaca buruk menjadi penyebab kenaikan harga. Sebab produksi beras dari petani rendah. Pasokan ke Bulog menjadi terhambat.

Namun, Kholisun mengaku stok beras di gudang Bulog sangat cukup untuk mengatasi kenaikan harga. “Kami masih punya stok 11 ribu ton beras. Khusus di gudang DIJ. Saya kira, itu cukup hingga panen beras pada Maret,” kata Kholisun.

Dikatakan, untuk mengendalikan harga, Bulog mengupayakan operasi pasar (OP). Bahkan OP tidak menunggu hingga harga naik tajam. Jika ada indikasi kenaikan harga, akan digelar OP.

“Jadi bukan seperti pemadam kebakaran. Jika ada api baru bergerak. Kami (Bulog) posisinya mencegah dan mengantisipasi kenaikan harga dengan menambah pasokan,” kata Kholisun.

Jika stok beras di DIJ kurang, masih ada stok di Kedu dan Banyumas. “Masih ada 24 ribu ton beras. Masih ada stok minyak goreng, gula dan daging beku,” katanya.

Anggota Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIJ, Probo Sukesi mengatakan, inflasi di DIJ hingga Desember 2018 tinggi. Sebesar 0,57 persen. Meningkat dibanding November 2018 yang 0,46 persen.

Jika melihat angka inflasi tahunan, DIJ masih tergolong rendah dibanding nasional. Dimana per tahun di DIJ terjadi 2,66 persen inflasi. “Angka nasionalnya 3,13 persen,” ujar Probo.

Dikatakan, untuk 2018, komoditi beras tidak menyumbang inflasi terbesar. Sebab OP Bulog dapat mengendalikan harga. Sehingga laju inflasi terkendali.
“Justru pada 2018 daging ayam ras, telur ayam, daging sapi, bawang merah dan cabai merupakan penyumbang inflasi terbesar,” kata Probo.

Dia mengakatan pangan mendominasi peningkatan inflasi. Sebab Jogjakarta merupakan tujuan wisata. Ketersediaan pangan bukan hanya untuk masyarakat DIJ saja. Tapi juga untuk wisatawan.

“Sehingga inflasi untuk makanan sangat tinggi. Mendominasi peningkatan inflasi,” kata Probo. (har/iwa/fn)