SLEMAN – Kemacetan lalu lintas di Perempatan Ringroad Kentungan semakin parah. Mengurainya, bakal dibangun underpass.

Pejabat Pembuat Komitmen Jembatan Kretek II dan Underpass Kentungan CS Sidik Hidayat memastikan, perempatan tersebut tetap dioperasikan saat pembangunan underpass. Namun akan dilakukan manajemen lalu lintas.

Tujuannya untuk mengurai kepadatan lalu lintas selama pembangunan. Diperkirakan memakan waktu sekitar setahun.

Akan dilakukan buka tutup jalan. Adapula pengalihan jalur. Manajemen lalu lintas akan dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ dan Ditlantas Polda DIJ. Pengerjaan underpass tidak bisa ditunda lagi.

“Sebenarnya masa pengerjaannya sudah extraordinary atau mepet. Jalan tetap kami buka, meski dua lajur saja. Tetap berfungsi, meski tidak 100 persen,” kata Sidik di Kantor Satker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) DIJ, Kamis (3/1).

Underpass tersebut menelan dana Rp 126 miliar. Terfokus arus lalu lintas timur dan barat. Panjang proyek 540 meter. Sedangkan panjang underpass atau area tertutup 180 meter.

Kedalaman underpass 5,1 meter. Sesuai standar ketinggian perlintasan kendaraan besar di Indonesia. Underpass dibangun sebanyak dua ruas. Arah timur dan barat. Setiap ruas memiliki dua lajur kendaraan.

“Dipilih timur-barat karena ruas jalan tersebut lebih ramai daripada utara-selatan. Merupakan perlintasan utama karena statusnya Jalan Nasional. Sehingga pengendara bisa melaju tanpa mengurangi kecepatan,” ujar Sidik.

Berdasarkan kajian, Perempatan Ringroad Kentungan tergolong rawan. Indeks kepadatan kendaraan mencapai 0,9. Melebihi indeks ideal 0,3. Kajian ini bersamaan dengan Perempatan Ringroad Condongcatur.

Underpass Jalan Affandi (Condongcatur) menyusul pembangunannya. Perencanaannya dulu memang bersamaan. Namun tidak efektif. Karena menimbulkan kepadatan kendaraan,” kata Sidik.

Mengenai pembebasan lahan, Sidik memastikan, proses pembebasan lahan telah rampung. Setidaknya 2.800 meter persegi tanah milik warga terdampak.

Pelebaran jalan tersebut untuk menambah lebar jalur lambat. Perluasan mencapai empat meter dari pinggir jalan. Jajarannya tengah melakukan sosialiasi pembongkaran bangunan.

Selain warga, Satker P2JN juga melakukan sosialisasi ke instansi terkait. Dalam hal ini adalah PDAM dan pengelola instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Pemberitahuan telah dilakukan awal tahun lalu.

“Kami sudah lampirkan peta pembangunan. Sehingga utilitas bisa digeser sebelum pengerjaan underpass. Untuk saat ini, sudah dipindah. Memutari underpass. Jumlah utilitas tidak banyak, dan tidak jadi masalah,” ujar Sidik.

Kasubidt Kamsel Ditlantas Polda DIJ AKBP Tri Iriani mengatakan, masih melakukan koordinasi. Pengalihan arus evaluatif. Ada kemungkinan pengalihan arus berdasarkan kondisi lapangan.

“Ada evaluasi berjenjang selama pembangunan underpass. Tetap berkoordinasi dengan komunitas lalu lintas. Termasuk dengan Dinas Perhubungan provinsi untuk pengalihannya,” kata Tri Iriani. (dwi/iwa/by)