JOGJA – CDK Agro terus memantapkan program menanam kelapa kopyor di atas lahan sejuta hektare. Lahan yang sudah disiapkan terbentang dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Pola penanaman kelapa kopyor ini bersifat kerja sama tiga pihak.

Pemilik lahan, pemilik bibit dan CDK Agro. “Komposisi pembagian keuntungannya 30 persen (pemilik lahan), 30 persen (pemilik bibit) dan 40 persen (CDK Agro),” Presiden CDK Agro Antok Joyo Kamis (3/1).

Penanaman kelapa kopyor telah dimulai dari Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul pada 21 Desember 2018. Kemudian dilanjutkan pada 30 Desember 2018, CDK Agro membuka lahan seluas 2 hektare di Wonogiri, Surakarta. Berlanjut kemudian di Cilacap, Jawa Tengah. “Di Cilacap kami membuka lahan kelapa kopyor seluas 4 hektare pada Sabtu 5 Januari 2019,” kata Antok.

Dari Cilacap, gerakan menanam kelapa kopyor dilanjutkan ke beberapa daerah lainnya. Saat ini di Aceh juga telah siap seluas 15 hektare. Demikian pula di Srumbung Kabupaten Magelang ada lahan seluas 2 hektare.

“Tujuan dari gerakan ini adalah demi memperkuat ekonomi rakyat,” katanya. Dikatakan, pangsa pasar kelapa kopyor masih cukup luas. Peluang di pasar juga relatif besar. Karena itu, CDK Agro ingin mendayagunakan potensi ekonomi tersebut.

Antok menyebutkan respons masyarakat terhadap gerakan CDK Agro lumayan baik. Bahkan baru-baru ini Camat Tegalrejo, Jogjakarta Riyanto Tri Nugroho dan Camat Pakem, Sleman Suyanto telah membeli sejumlah bibit kelapa kopyor dari CDK Agro. (kus)