JOGJA – Melalui Peraturan Wali Kota nomor 85 tahun 2018 tentang pengendalian pembangunan hotel, Pemkot Jogja membuka kembali izin pembangunan hotel. Terbatas hanya untuk hotel bintang empat dan lima, serta homestay.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi beralasan dicabutnya moratorium untuk menfasilitasi wisatawan. Dia mengungkapkan jumlah hotel yang sudah ada saat ini dirasa masih belum mampu menampung para pelancong yang datang ke Jogja. Tapi meski saat ini total ada 624 hotel di Kota Jogja, tidak semuanya diniatkan untuk melayani wisatawan.

Radar Jogja mendapati melalui agen properti ternama, terdapat beberapa hotel di Kota Jogja yang justru hendak dijual. Ketika dikontak, salah satu pegawai agen tersebut menawarkan beberapa hotel bintang tiga dan dua di wilayah Kota Jogja dan Sleman. “Kalau untuk wisatawan memang paling banyak nginep di hotel di Kota Jogja,” ujar pria yang enggan namanya dikorankan itu Kamis (3/1).

Dia juga menyebut beberapa nama hotel. Seperti hotel bintang dua yang berada di Jalan Kusumanegara Jogja yang ditawarkan Rp 90 miliar. Bahkan bangunan hotel di sebelahnya, yang belum beroperasi juga ditawarkan. Dia juga menawarkan bangunan hotel di kawasan Gejayan dengan haraga Rp 30 miliar sampai Rp 50 miliar. “Ada banyak hotel bintang dua dan tiga, kalau yang di dalam kota memang lebih mahal,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Istidjab M.Danunagoro mengakui akhir-akhir ini memang didapati beberapa hotel diperjualbelikan. Ia menilai banyak faktor yang melatarbelakangi jual beli hotel. “Jadi tidak hanya satu faktor saja,” jelasnya kepada Radar Jogja.

Salah satu yang menjadi faktor yakni pemilik yang memiliki latar belakang pengembang. Bukan pengusaha hotel. Dia membeli tanah dan membangun properti, termasuk dalam bentuk hotel, kemudian dijual lagi. “Biasanya setelah 1-2 tahun bisa dilepas kalau sudah merasa untung dengan pertimbangan kenaikan nilai aset,” jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, ada pula pemilik yang menjual hotel dikarenakan tidak mampu memenuhi target. Ketika pemilik tidak mampu melunasi pinjaman, maka bank akan mengambil alih hotel tersebut dan dilelang. “Ini semacam faktor finansial,” paparnya.

Namun, faktor lain ada pula hotel yang merugi namun tetap dijalankan. “Biasanya pemilik memiliki banyak hotel atau unit usaha lain yang dapat menopang kerugian hotel tersebut,” jelasnya. Hal itu dapat dilakukan saat pengusaha merasa suatu saat hotel tersebut masih potensial untuk dipertahankan.

Terkait dengan perizinan, Kepala Bidang Pelayanan Dinas Perizinan dan Penanaman Modal (DPMP) Kota Jogja Setiono mengatakan, tidak masalah selama hotel yang dijual sudah berdiri. “Kalau sudah jadi (fisik hotel) tidak masalah,” ujarnya.

Setiono menjelaskan jual beli hotel bisa dilakukan selama bangunan sudah jadi dan mengantongi surat bukti kepemilikan bangunan (SKB). Nantinya DPMP Kota Jogja yang akan memproses balik nama SKB berdasarkan akta jual beli. “Tapi jika masih dalam bentuk IMB (izin membangun bangunan) tidak bisa diperjualbelikan,” tegasnya.

Apakah sudah ada pemilik hotel baru yang mengajukan perubahan SKB? Setiono mengaku belum ada yang mengajukan ke DPMP Kota Jogja. “Kalaupun ada biasanya jual beli dibawah tangan, kalau formalnya harus ke DPMP,” katanya. (cr10/pra)