JOGJA – PSIM Jogja siap memberikan pendampingan hukum kepada anggota Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Dwi Irianto setelah berstatus tersangka atas kasus pengaturan skor. Pria yang akrab disapa Mbah Putih sebelumnya di tangkap oleh Satgas Antimafia Bola di Jogjakarta, Jumat (28/12).

Ketua Umum PSIM Agung Damar Kusumandaru menegaskan, siap memberikan pendampingan hukum bila diminta oleh Mbah Putih. Meskipun kasus yang disangkakan terhadap Mbah Putih, terkait pada posisinya sebagai pengurus di organsasi PSSI. ”Kalau Mbah Putih meminta maka klub akan menyiapkan. Selama ini kami di manajemen hanya mengikuti kasusnya lewat media,” jelas Agung, Rabu (2/1).

Agung pun terkejut atas kasus yang menimpa salah satu tokoh sepak bola di DIJ tersebut. Sebab sejauh yang dia kenal, Mbah Putih selalu mengedepankan konsep pembinaan. Terbukti banyak pemain lokal potensial yang lahir di tim PSIM. ”Saya pun tidak yakin dengan match fixing yang disangkakan Mbah Putih,” kata Agung.

Sementara itu putra kedua Mbah Putih, Berlandika Candra Pramudikta mengaku belum mengetahui secara pasti langkah yang ditempuh orang tuannya setelah berstatus sebagai tersangka. “Saya baru dalam perjalanan akan ke Jakarta untuk menjenguk Papa,” ujarnya singkat.

Seperti diketahui Mbah Putih menjadi orang keempat yang ditangkap Satgas Antimafia Bola terkait dugaan pengaturan  skor. Selain nama Mbah Putih, Satgas Antimafia Bola juga telah menangkap tiga tersangka lainnya yaitu Komite Eksekutif PSSI Johar Lin Eng, serta dua terduga mafia pengatur skor asal Jawa Tengah, Priyanto dan Anik Yuni Artikasari.

Keempatnya merupakan nama-nama yang disebut oleh manajer dari tim Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani, yang buka-bukaan terkait mafia pengatur skor dalam acara televisi bertajuk Mata Najwa.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan Mbah Putih diduga ikut menerima aliran dana dari setiap klub yang terlibat pengaturan skor.  Dalam kasus Persibara, Mbah Putih tercatat menerima Rp 15 juta untuk mengamankan laga Persibara Banjarnegara kontra Persik Kediri.

Kasus mafia bola sendiri mulai mencuat setelah Lasmi buka suara di sebuah acara televisi. Tidak hanya Lasmi, manajer tim Liga 2 Madura FC, Yanuar pun mengungkapkan hal yang sama. Efeknya, Komdis PSSI memutuskan PSMP dilarang tampil di Liga 2 atas kasus match fixing. (bhn/din)