GUNUNGKIDUL – Satu sekolah dasar negeri (SDN) di Gunungkidul gagal di-regrouping setelah diprotes wali muridnya yakni SDN 3 Paliyan. Meski demikian, demi efisiensi guru, puluhan SD tetap akan ditutup. Hal itu dilakukan lantaran sekolah kekurangan murid.

Kabid SD Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Sudia Marsita mengatakan, khusus SDN 3 Paliyan dipastikan tidak akan digabung tahun ini. Rencana awal digabung dengan SDN Giring yang berjarak sekitar 5 Km dari lokasi awal.

“Ada beberapa alasan dibatalkannya rencana itu. Wali murid SDN 3 Paliyan menyampaikan empat opsi. Kami memilih opsi terakhir, berupa penundaan regrouping sampai siswa lulus semua,” akat Sudia Marsita saat dihubungi Senin (31/12).

Lebih jauh dikatakan, kebijakan regrouping sudah sesuai dengan aturan. Saat ini disdikpora tengah melakukan pendekatan terhadap puluhan sekolah dasar. Lembaga pendidikan dasar itu dinilai tidak efektif karena kekurangan murid. “Ada 27 sekolah yang akan digabung tersebar merata di semua wilayah kecamatan,” ujarnya.

Dikatakan, penggabungan sekolah harus dilakukan mengingat setiap tahun jumlah pendaftar mengalami penurunan cukup signifikan. Tahun ajaran baru nanti diperkirakan ada 8.600 siswa masuk sekolah dasar. “Total SD ada 474. Sementara setiap tahun terjadi penurunan jumlah pendaftar atau bangku kosong rata-rata 300 anak,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Sekolah pengampu SD Mulo 1 Wiji Utomo mengatakan, jumlah siswanya ada 65 anak. Untuk sementara ini orang tua siswa belum setuju di-regrouping dengan beberapa alasan, salah satunya pertimbangan jarak.
“Kalau kami mendukung program pemerintah demi efisiensi anggaran dan demi didapatkannya hak hak siswa untuk lebih banyak mendapat bekal. Baik berupa ilmu pengetahuan atau pun pengembangan minat dan bakat siswa,” kata Wiji.
Di bagian lain, anggota DPRD Gunungkidul Ari Siswanto mengaku akan berusaha membantu orangtua siswa yang keberatan dengan kebijakan regrouping. Pihaknya menyesalkan buruknya komunikasi yang dibangun disdikpora.

“Seharusnya ada komunikasi yang baik di era demokrasi seperti ini, namun itu kan tidak ada. Terpenting sebelum sekolah digabung dikomunikasikan terlebih dahulu,” kata Ari. (gun/laz/fn)