Wakapolda DIJ Brigjen Polisi Bimo Anggoro Seno tegas melarang adanya konvoi selama perayaan pergantian tahun. Pertimbangannya, selain penumpukan kendaraan juga antisipasi terjadinya bentrokan di jalan. Terlebih konvoi diikuti oleh beragam kelompok dari berbagai wilayah.

Terkait larangan ini dia meminta seluruh jajaran tegas. Khususnya pengawasan dari jajaran Polres, Polresta hingga lingkup terkecil Polsek. Antisipasi diambil agar suasana pergantian tahun tetap aman dan kondusif. “Larangan konvoi jelas ada, terutama untuk masuk ke kota. Dari kabupaten ada penyekatan di sejumlah titik. Langkah ini juga bertujuan mengurangi kepadatan jalan raya, karena pasti tumpah ruah,” jelasnya Minggu (30/12).

Mantan Wakapolda Sumatera Selatan ini mengakui bahwa potensi gesekan di jalan raya ada. Terlebih karakter pengendara berbeda-beda. Meski tidak ada niat hati mencari kerusuhan namun tanggapan pengendara lain tentu berbeda.
Selain konvoi, jajarannya juga menggelar operasi cipta kondisi. Berupa razia minuman beralkohol dan narkotika. Operasi ini sendiri merupakan bagian dari Operasi Lilin Progo 2018. Hanya saja fokusnya pada konsumsi mihol dan penyalahgunaan narkotika.

“Itu sudah kami rapatkan dengan pemda. Sudah ada razia miras sejak beberapa hari lalu. Termasuk operasi yang menyasar penyalahgunaan narkotika apalagi saat malam pergantian tahun. Sudah kami antisipasi,” katanya.

Tidak hanya razia mihol dan narkotika, kepolisian juga fokus razia petasan. Alasannya petasan tergolong sebagai bahan peledak. Terlebih untuk jenis petasan tertentu memiliki daya ledak tinggi. Jika tidak tepat maka ledakan petasan dapat menimbulkan korban.

Saat disinggung keberadan kembang api, jenderal bintang satu ini tidak melarang. Asalkan kembang api dinyalakan di lokasi yang aman. Dia meminta kembang api tidak dinyalakan di sekitar lingkungan rumah sakit. Tujuannya untuk menjaga kenyamanan para pasien.

“Kembang api tetap boleh kok, tapi ya jangan dinyalakan asal. Harus ada tepa selira, bukan hanya demi euforia tahun baru justru mengorbankan kenyamanan dan kepentingan orang lain,” pesannya.

Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah memastikan ada penerapan diskresi arus lalu lintas. Jalur-jalur padat kendaraan mendapat perlakuan khusus. Terutama titik persimpangan rawan seperti kawasan ruas jalan ringroad.
Terkait kebijakan manajemen lalulintas perkotaan juga jadi pertimbangan. Ini karena besar kemungkinan terjadi penumpukan menuju arah masuk Kota Jogja. Terlebih dengan adanya kebijakan buka tutup berimbas pada titik buang kendaraan.

“Situasional, diskresi silakan tarik mana yang padat lalu kosongkan, mana yang tidak padat alirkan. Saat kota ditutup otomatis ada titik menuju Sleman. Kami terus berkoordinasi agar tahu perkembangan arus di kota dan solusi manajemen lalu lintas di wilayah Sleman,” ujarnya. (dwi/laz)