SLEMAN – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Sleman menjemput bola perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Jemput bola dilakukan di Panti Wredha Pakem dan Lapas Cebongan (28/12).

Kepala Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk, Disdukcapil Sleman, Endang Mulatsih mengatakan, hal ini merupakan upaya pemerintah memenuhi hak warga memiliki dokumen kependudukan. “Perekaman e-KTP dua hari. Sejak Kamis (27/12). Sasarannya, warga binaan dan warga jompo,” ujar Endang.
Endang menjelaskan, sebanyak 39 lansia (lanjut usia) melakukan perekaman e-KTP. Sebelas warga binaan Lapas Cebongan juga direkam datanya. Proses jemput bola sudah berlangsung sejak Januari 2018.

Panti Jompo Wredha memiliki 39 penghuni dari 130 lansia yang tidak memiliki identitas. “Sudah kami entry datanya. Dilengkapi dokumen dan asesmen terkait asal usul penduduk di panti,” ujar Endang.

Perekaman e-KTP ini juga berkaitan dengan pemenuhan hak pilih dalam pemilihan umum (Pemilu) 2019. Disdukcapil menurunkan dua tim. Meng-cover desa dan sekolah.

“Kami juga akan sisir pesantren untuk perekaman data. Senin hingga Kamis kami turunkan dua tim untuk jemput bola,” tutur Endang.

Kepala Seksi Pelayanan dan Jaminan Sosial, Dinas Sosial (Dinsos) DIJ, Gatot Yulianto menyatakan, pihaknya telah mengajukan data kepada dinas untuk perekaman e-KTP. Sebab belum semua lansia punya e-KTP.

“Dulu kami usulkan ke Dukcapil Provinsi. Ditindaklanjuti dengan instruksi untuk mendata dan melengkapi dokumen. Lalu keluar rekomendasi untuk dilakukan perekaman data di Dukcapil Sleman,” tutur Gatot.

Dikatakan, seluruh lansia tersebut dikirimkan masyarakat karena tidak memiliki keluarga. Beberapa lansia yang didata merupakan hasil penyisiran di jalan. Biasanya menjadi gelandangan atau pengemis.

Target sebelas warga binaan Lapas Cebongan yang direkam datanya, hanya tujuh yang berhasil. Empat lainnya tidak memiliki dokumen lengkap. (har/iwa/fn)