Perkembangan dunia kuliner kian tak terbendung. Beragam inovasi muncul dengan citarasa baru. Dan tentu saja menggoyang lidah si penikmatnya. Seperti Moon Shine buatan pasutri asal Ngaglik, Sleman.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

MENDENGAR nama moonshine yang terlintas adalah minuman beralkohol buatan rumahan. Dengan cara disuling. Secara alami. Dalam skala terbatas. Masyarakat Eropa maupun Amerika gemar membuat minuman ini untuk dikonsumsi sendiri.

Moon Shine olahan Satria Cahyo Pamungkas ini memiliki varian berbeda. Tanpa alkohol. Atau fermentasi buah tertentu. Semua terbuat dari bahan alami. Bahkan konon memiliki khasiat tertentu. Untuk kesehatan tubuh yang mengonsumsinya.

“Mungkin karena bahan bakunya semua dari alam. Tanpa pengawet buatan. Ada rempahnya juga,” ujar Satria, sosok di balik dibalik inovasi pangan ini.

Bersama sang istri, Anneke Putri Purwidyanti, Satria mengolah Moon Shine di rumah mereka. Di wilayah Ngaglik, Sleman. Sejak satu setengah tahun lalu mereka mencoba membuat minuman sehat dan alami. Keduanya memang sudah sejak lama ingin membuat minuman enak dan menyehatkan. “Dasarnya kami suka coba-coba minuman di kafe. Ada kopi yang dicampur buah. Dari situ kami berpikir untuk mencoba hal yang baru,” kata Satria.

Radar Jogja berkesempatan mencicipi hasil karya mereka. Beberapa waktu lalu. Dominasi rasa rempah dan segarnya buah menyatu dalam minuman ini.

Satria mengaku, Moon Shine ciptaannya lahir dari ketidaksengajaan. Nama “Moon Shine” justru menjadi hoki. Karena umumnya dikira moonshine. Yang beralkohol itu. “Kadang memang banyak yang tanya apa ini ada kandungan alkoholnya,” ujar pria lulusan kedokteran itu.

Pria 28 tahun itu tak segan berbagi resep. Rahasia dapur dia beberkan. Detail. Untuk menjawab rasa penasaran Radar Jogja. Bahan yang dia gunakan 100 persen dari alam. Termasuk pengawetnya. Dari kulit kerang dan udang.

Olahan minuman alami itu, kata dia, bisa bertahan hingga satu tahun. Soal khasiat, Satria tidak bisa memberikan klaim. Sebab masih ada gula dalam komposisinya. “Karena itu bagi yang diabetes kami tidak menyarankan (mengonsumsi Moon Shine, Red),” jelasnya.

Satria berharap, kehadiran Moon Shine buatannya dapat memberikan pengalaman rasa baru bagi pecinta kuliner. Sekaligus untuk menambah varian produk minuman alami di pasaran. Tanpa campuran zat kimia.

Dalam sebulan Satria mampu memproduksi Moon Shine hingga lebih dari 100 liter. Dibuat sirup dan minuman ready to drink. “Semuanya produksi rumahan,” katanya.

Soal rasa, pria yang lebih muda lima tahun dari istrinya itu menyatakan, tidak semua lidah bisa menerima. Ada yang menganggap rasanya kurang nendang di mulut. “Itu bagi yang belum terbiasa megonsumsi rempah. Yang terbiasa ya bilang enak dan segar,” ujarnya.

Selera memang tergantung masing-masing individu. Satria hanya ingin menciptakan variasi baru dunia kuliner yang berbeda.

Bisa diterima atau tidak oleh konsumen, itulah tantangannya. Satria terus berusaha. Menyelaraskan rasa dan selera lidah masyarakat Indonesia. (yog/fn)