BANTUL-Guna mencetak pelayan kesehatan yang profesional dan terpercaya tidaklah mudah. Kendati demikian, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Akbidyo terus berupaya menjaga komitmen sebagai lembaga pendidikan yang mampu mencetak lulusan terbaik.

Ketua Program Studi (Kaprodi) D3 Kebidanan STIKes Akbidyo Endang Khoirunnisa SSTKeb, MKes mengatakan, STIkes Akbidyo memiliki misi untuk mencetak bidan yang profesional dan mandiri. Guna mencapai itu, ada beberapa keunggulan yang dimiliki STIKes Akbidyo. “Salah satunya adalah para lulusan memiliki kemampuan komplementer,” tuturnya.

Endang Khoirunisa (ISTIMEWA)

Secara keseluruhan kemampuan itu masuk menjadi salah satu mata kuliah yang diajarkan. Yakni bernama Asuhan Kebidanan Komplementer. Materi pengasuhan yang ditujukan bagi ibu dan bayi tersebut berupa memeriksa kehamilan, menolong persalinan, hingga Keluarga Berencana (KB). Tidak hanya itu, tetapi juga pemberian materi tentang yoga hypnobirthing. “Ada juga materi tentang pijat ibu hamil atau Moms Spa,” kata Endang.

Tak hanya Itu, mahasiswa juga diajarkan untuk membantu mengurangi rasa sakit saat persalinan. Kemudian ada pula materi praktik totok wajah, pijat masa nifas (setelah melahirkan), hingga materi ratus vagina. Ratus vagina adalah perawatan vagina dengan cara pengasapan secara langsung guna menjaga kebersihan area intim kewanitaan.

Lebih dari itu, para mahasiswa juga dibekali cara pijat bayi (baby spa). Serta tak ketinggalan mata kuliah Positive Parenting. Mata kuliah tersebut pun berguna untuk memberi pemahaman dan persiapan bagaimana menjadi orangtua.
Bekerja sama dengan Prodi S1 Farmasi, mahasiswa D3 Kebidanan juga melakukan praktik untuk membuat beragam jenis jamu. Tak hanya sekadar mengetahui manfaatnya secara teori, para mahasiswa pun praktik langsung untuk meraciknya, hingga mencicipi.

Dosen pengampu mata kuliah Keluarga Berencana Eka Nur Rahayu S SiT MPH menambahkan, keterampilan-keterampilan tersebut bertujuan untuk mencetak lulusan yang mandiri. “Harapan kami kelak para lulusan bisa membuka praktik dan pelayanan mandiri yang unggul,” katanya.

Berdiri sejak 2005, Endang mengakui, hingga kini keterampilan itu pula yang membuat Akbidyo semakin dipercaya masyarakat terkait pelayanan kesehatan. “Beberapa lembaga kesehatan seperti Puskesmas di daerah-daerah pun cenderung menyukai kinerja dan attitude para lulusan Akbidyo,” ujarnya.

Meski terbilang baru berdiri, yakni sejak 2005, Akbidyo terus melakukan inovasi-inovasi di bidang kesehatan. Belum lama ini, perguruan tinggi yang terletak di Jalan Parangtritis Km 6, Sewon, Bantul tersebut bahkan menambah Prodi baru yakni S1 Profesi Kebidanan. Itu lantas menguatkan Akbidyo sebagai lembaga pendidikan kesehatan yang semakin eksis.

Kampus yang semula bernama Akademi Kebidanan Yogyakarta itu pun belum lama ini berubah status. Tepatnya pada Agustus 2017, lembaga tersebut menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Akbidyo. Meski terbilang berusia muda, lulusan Akbidyo kini sudah banyak tersebar di berbagai bidang profesi. “Ada yang buka praktik sendiri. Ada juga yang bekerja di puskesmas, di klinik, di rumah sakit, dan PNS (pegawai negeri sipil),” kata Endang.

Prestasi yang diraih pun dinilai membanggakan. Mulai dari bidang akademik seperti debat ilmiah. Hingga prestasi non-akademik khususnya di bidang olahraga. Endang berharap, keaktivan mahasiswa melalui kegiatan-kegiatan tersebut bisa turut memromosikan nama baik Akbidyo di masyarakat. (cr9/din/fn)