JOGJA – Di era revolusi industri 4.0, seorang mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki indeks prestasi (IP) tinggi. Melainkan diharapkan juga memiliki wawasan global dengan disokong kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni.

Dengan semangat itu, untuk kali pertama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) dan Kantor Urusan Internasional (KUI) didukung Indonesian International Work Camp (IIWC), menyelenggarakan UAD International Camp 2018. Acara digelar di Desa Wisata Sermo, Hargowilis, Kokap, Kulonprogo. Diikuti 66 peserta, terdiri atas 47 mahasiswa UAD dan 19 mahasiswa asing yang sedang menempuh studi di UAD.

Kabid Pengembangan Kemahasiswaan Bimawa Danang Sukantar M.Pd. menyampaikan, kegiatan ini untuk memberikan bekal pengalaman bagi mahasiswa agar siap mengikuti berbagai even berskala nasional maupun internasional, dengan cara membaur dengan mahasiswa asal luar negeri. “Agar terbangun rasa percaya diri dan dapat memperluas jaringan global mereka,” jelasnya, saat ditemui di Ruang Bimawa, Kampus 1 UAD, Jalan Kapas No 9, Jogja, Senin (17/12).

Danang menuturkan, UAD menaruh harapan besar di atas pundak para mahasiswa ini. Walaupun persiapan hanya seminggu, kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari (15 dan 16 Desember) ini sukses dalam penyelenggaraannya.

“Peserta adalah mahasiswa semester 1 dan 3 yang memiliki IP di atas 3,7 dengan kemampuan bahasa Inggris yang bagus,” ujarnya.

Rektor UAD Dr H Kasiyarno, M.Hum saat melepas kegiatan berharap 2020 akan lahir mahasiswa mahasiswa berprestasi dan unggul by design yang memang sejak awal dipersiapkan oleh UAD. “Siap berkompetisi secara global, siap mengikuti even berstandar Kemenristekdikti, selanjutnya akan dipilih untuk mewakili dalam even berskala internasional. Dengan rajin membaca dan menulis, mereka pasti menguasai bidang penalaran dengan sangat mumpuni,” ujarnya.

Wakil Rektor 3 Bidang Pengembangan Kemahasiswaan dan Pemberdayaan Alumni Dr Abdul Fadlil MT dalam pengarahannya menyampaikan, mahasiswa UAD harus memiliki karakter kuat. “Mempunyai keseimbangan antara keilmuan secara global di satu sisi dan peduli kondisi masyarakat sekitar di sisi lain,” tegasnya.

Danang malanjutkan, dalam kegiatan camp ini, mahasiswa ditempa secara fisik, agar kuat dan sehat jasmani dan rohani. Selain itu juga diberikan bekal softskill psikologis.

“Mahasiswa dibawa ke kampung, ke desa, berinteraksi dengan masyarakat dusun, agar merasakan langsung kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat desa, sehingga dapat muncul kepekaan untuk memahami dan menghayati kehidupan di desa,” urainya.

Yang menarik, sambung Danang, diberikan pelatihan membuat makanan desa geblek, dan pembuatan gula Jawa dari sejak mengambil air nira dari pohon kelapa setinggi 15-20 meter.  Satu hal lagi, mahasiswa asing menjadi paham budaya lokal dan Islam, bahwa Islam itu agama yang tidak mengajarkan kekerasan. “Bahkan ada yang tertarik untuk mempelajari Muhammadiyah lebih mendalam,” katanya.

Sesi outbond dipandu dosen Psikologi UAD Unggul HN Utomo M.Si dan pemateri lain dari Dinas Pariwisata Kulonprogo Anom Sudarinto A.Md. Salah satu peserta, Prabowo Hadiprayitno dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Akuntansi semester 3 asal Sedang Bedagai, Sumatera Utara, mengaku sangat senang dan merasa mendapatkan manfaat berupa ilmu dan pengalaman yang berharga dari kegiatan ini. (*/laz)