Ini termasuk film yang narasinya sangat licin untuk disinopsiskan karena terletak letupan kejutan utama di seperempat awal babak pertamanya. Alkisah, ada satu proyek pembuatan film zombie yang sedang syuting di sebuah gedung tua tak terurus mirip bekas pabrik.

Sang sutradara film yang perfeksionis dan temperamental membuat proses syuting film berjalan melelahkan. Tak disangka-sangka ketika rehat syuting terjadilah suatu insiden yang lama-lama membuat kejanggalan demi kejanggalan di balik layar pun ikut-ikutan terkuak.

Film ini terklasifikasi sebagai film bergenre komedi, namun yang saya rasakan tak demikian. Bagiku genre film ini cair. Sensasi yang terasa semacam permen nano-nano. Bagian menegangkannya tergarap efektif. Komedinya pun meski nggak membuat saya terpingkal tetapi terasa segar.

Setelah seperempat lebih dikit bagian awal filmnya, barulah penonton bisa mencerna utuh keunikan konsep dari film ini. Lantas, apakah bagian seperempat awal filmnya nggak penting? Sama sekali penting. Dia tetap sangat vital karena justru bagian itulah yang nantinya menjadi “lembaran rumput laut utk menggulung sushi”-nya.

Sudah lama saya tak dapat film dengan konsep bertutur yang unik seperti ini. Film ini melepas musim paceklik itu secara manis sebab meski cenderung eksperimental film ini tetap dapat dinikmati santai tanpa menuntut kernyitan dahi dari penontonnya sebagaimana film eksentrik pada umumnya.

Bagian kecil tapi penting yang tak dilupakan film ini adalah drama. Meski secuil, ia macam mode tamba ati. Tentunya cukup problematis membubuhkan elemen drama pada film yang penawaran utamanya adalah gaya alternatif dalam bercerita. Syukurlah film ini saya anggap bersikap proporsional dalam menyiasatinya. Dalam struktur narasi yang cenderung dekonstruktif namun bertujuan konstruktif ini elemen drama ditaburkan sedikit demi sedikit sehingga cukup terasa merata dan di sisi yang lain keanehan sajiannya pun tetap nyaman dinikmati.

Ini adalah film unik pertama di tahun 2018 yang saya tonton. Ia mengajak penulis skrip khususnya dan sineas pada umumnya untuk berlomba makin kreatif. Yang paling utama menurut saya di sini adalah contoh bahwa keberanian yang bertanggung jawab membuahkan hasil yang baik. Satu hal yang jelas: keunikan film ini patut dirayakan sekaligus dikenang! (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara.