BANTUL – Indonesia telah sukses menjadi tuan rumah di ajang Asian Games 2018 dan Asian Paragames 2018. Tidak bisa dipungkiri, media-media di dunia menyorot Indonesia dan penyelenggaraan dua event kompetisi besar olahraga tersebut.

Nah, karena hal itulah, menjadi satu dari banyaknya alasan Prancis tertarik terhadap olahraga di Indonesia. Pemerintah Prancis melalui Institut Français Paris, Institut Français Indonesia (IFI), dan IFI-LIP Jogjakarta menggelar event bertajuk International Meeting, Discussion, and Forum: Geopolitic & Sport. Seminar ini diadakan di Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, Rabu (5/12). Tak hanya di satu lokasi, juga diadakan di UMY dan di Fakultas Hukum UII, Kamis (6/12).

Narasumber yang dihadirkan peneliti, dosen, dan ahli di bidang geopolitik, sekaligus Kepala Badan Penelitian French Institute for International and Strategic Affairs Barthélémy Courmon. Serta dosen geopolitik di Sciences Po Paris dan kolumnis media Cyrille Bret.

Menurut Barthélémy Courmon,  penyelenggaraan event kompetisi olahraga khususnya Asian Games 2018 untuk kasus di Indonesia memiliki dua dampak baik negatif maupun positif bagi negara itu sendiri.

”Harapan diselenggarakannya kompetisi olahraga di sebuah negara adalah terciptanya perdamaian, kesejahteraan, dan kekuatan kepada seluruh peserta serta khususnya untuk negara tuan rumah diadakannya kompetisi tersebut,” jelasnya.

Sedangkan Cyrille Bret menjelaskan, perwujudan perdamaian melalui olahraga adalah inti dari gerakan Olimpiade. ”Olimpiade Musim Dingin 2018 terakhir menunjukkan kekuatan politik dari olahraga yakni Korea Utara dan Korea Selatan berjalan bersama di bawah satu bendera pada saat upacara pembukaan,” jelasnya.

Pada saat itu, pembicaraan mengenai perdamaian seakan menjadi titik temu dari ketengangan antar kedua negara itu. Setelah itu, bahkan ada momen di mana pada pertemuan Presiden Amerika Serikat mengucapkan terima kasih kepada Presiden Korea Utara atas ”Semangat Pyongchang” ini.

”Juga terkait kesejahteraan sebagai salah satu efek dari penyelenggaraan kompetisi olahraga dari pesatnya kemajuan pembangunan infrastruktur seperti bandara, stasiun, dan alat transportasi serta kepariwisataan. Hal ini juga lah yang terjadi di Rusia selama piala dunia Juni-Juli lalu,” tambahnya.

Berbicara mengenai Indonesia, telah diketahui bahwa pemerintah Indonesia mengajukan diri sebagai kandidat tuan rumah Olimpiade 2032. Dalam pemaparannya, Barthélémy melemparkan pertanyaan kepada segenap peserta ini terkait kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah gelaran besar kompetisi olahraga tingkat dunia itu.

”Prancis membutuhkan tiga kali pengajuan sampai akhirnya terpilih untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2024. Perjuangan panjang ini membutuhkan persiapan yang luar biasa. Apakah Indonesia siap untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 ? Mungkin jawabannya agak sulit, tapi, coba kita ambil suara,” katanya. (ila)