Animo masyarakat untuk menggunakan pesawat terbang cukup tinggi. Selain lebih cepat, penggunaan burung besi sebagai pilihan transportasi perjalanan bisa mengefisiensikan tenaga dan waktu. “Perkembangan dunia penerbangan tentu berpengaruh pada prospek lulusan Sekolah Tinggi Teknik Kedirgantaraaan (STTKD) Jogjakarta lebih cemerlang,” ungkap Kepala Tracer Study dan Pusat Karier STTKD Nanik Riananditasari saat ditemui Radar Kampus, Senin (5/11).

Di samping itu penambahan unit pesawat terbang di setiap maskapai juga menjadi ladang bagi penyerapan tenaga kerja lulusan penerbangan. Apalagi lulusan STTKD punya kelebihan kompetensi karakter yang lebih baik. “Kami sudah menanamkan nilai-nilai kedisiplinan kepada setiap taruna sejak awal masuk,” kata Nanik.

Kendati demikian, ia menjelaskan, tidak semua siswa bisa masuk di Jurusan Teknik Kedirgantaraan STTKD Jogjakarta. Ada spesifikasi khusus yang harus dipenuhi. Di antaranya hanya siswa SMK Jurusan Teknik Mesin dan SMA Jurusan IPA yang boleh maju. “Siswa juga tidak boleh buta warna,” tegasnya.

Spesifikasi ini dipatenkan lantaran ketika lulusan akan bekerja di dunia penerbangan, harus mengantongi sertifikat dari kementerian perhubungan. Salah satu persyaratannya lulusan IPA. “Nah itu pertimbangannya mengapa lulusan IPS tidak memenuhi spesifikasi,” jelasnya.

Lebih rinci Ketua Prodi Teknik Dirgantara Haris Ardianto menambahkan, mahasiswa diarahkan pada dua peminatan. Pertama, perancangan Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Fokusnya pada pembuatan pesawat tanpa awak. Mahasiswa diajarkan merancang dan perakitan pesawat tanpa awak. Nah, pada peminatan ini mahasiswa harus punya keilmuan perancangan aerodinamika dan kelistrikan yang kuat.

Kedua, peminatan di bidang analis penerbangan. Jadi mahasiswa tidak sebatas mekaniknya saja. Tapi lebih banyak menganalisa seputar pesawat. “Termasuk menganalisa penyebab kerusakan dan gangguan pesawat,” katanya.

Haris berharap mahasiswa bisa menguasai kedua bidang ilmu ini. Paling tidak bisa kompeten pada salah satu peminatan. Menurutnya, jenjang karir lulusan teknik dirgantara tidak monoton pada pengabdian di perusahaan penerbangan. Mahasiswa bisa mengembangkan ilmu dengan menjadi pengusaha penerbangan. “Kami juga memberikan bekal wirausaha,” ungkapnya.

Dari tahun ke tahun peminat ke STTKD terus meningkat. Terutama teknik dirgantara. Kendati begitu, Haris mengimbau agar lulusan tidak cepat puas dengan ilmu yang sudah didapatkan saat ini. Menurutnya. lulusan S1 harus siap belajar. Kalau bisa melanjutkan pendidikan ke arah yang lebih baik lagi. Selain itu mereka juga diharapkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan. “Semoga mereka bisa bermanfaat bagi dunia penerbangan lebih baik,” harapnya. (ega/laz/er/mg3)