SLEMAN – Dugaan adanya peninggalan Kerajaan Mataram Kuno di Dusun Balong Bayen, Purwomartani, Kalasan, Sleman mulai terkuak kebenarannya. Hingga hari terakhir ekskavasi kemarin (24/9) penelitian tim Balai Arkeologi (Balar) DIJ membuahkan hasil cukup signifikan. Meski belum menemukan struktur candi yang menjadi patokan adanya situs kerajaan, tim mendapatkan bukti peradaban kuno di Balong Bayen.

Berupa tujuh bebatuan candi, empat pecahan keramik, dan puluhan remah-remah gerabah tanah liat. Temuan ini makin menguatkan dugaan adanya peninggalan situs Hindu abad VIII hingga X Masehi. Kendati demikian, penelitian dihentikan sementara dan dilanjutkan tahun depan. Tim selanjutnya akan bergerak ke Sukoharjo, Jawa Tengah untuk melacak jejak peradaban Mataram kuno lainnya.

Ketua Tim Peneliti Kerajaan Mataram Kuno Balai Arkeologi DIJ Baskoro Danu Cahyono memastikan temuan tersebut artefak Mataram kuno. Setidaknya dugaan itu berdasarkan titik kedalaman tanah tempat tertimbunnya artefak tersebut.

“Pecahan keramik dan gerabah di kedalaman lima meter. Bukti ada peradaban kuno dan kehidupan pada lapisan tanah itu. Bisa jadi temuan ini merupakan alat untuk upacara pada era Mataram kuno,” jelasnya di sela proses ekskavasi kemarin (24/9).

Pencarian situs Mataram kuno mengandalkan empat kiblat situs kuno. Hipotesis yang digunakan berdasarkan letak Candi Kedulan, Candi Sambisari, Situs Duri, dan Situs Bromonilan.
Empat titik tersebut diduga sebagai batas kota. Dan jika ditarik garis lurus dari Candi Prambanan, Balong Bayen tepat berada di tengahnya. Selain itu, letak Balong Bayen juga diapit dua sungai besar, yakni Kali Opak dan Kali Kuning. Ada pula Gunung Merapi di sisi utaranya yang dipercaya sebagai tempat tinggal para dewa.

“Seperti kiblat papat lima pancer Keraton Jogjakarta,” papar Baskoro.

Analisis hipotesis ini telah dilakukan sejak 2009. Terkait sejarah Mataram Kuno, lanjut Baskoro, ada empat fase perpindahan. Berawal di Poh Pitu, lalu Mamrati Pura yang diduga berada di kawasan Jogjakarta dan Jawa Tengah. Kemudian Tamlang dan Watu Galuh yang berada di kawasan Jawa Timur.

Berdasarkan prasasti Mataram kuno tercatat empat kali perpindahan. Situs Tamlang dan Watu Galuh sudah diketahui. Sedangkan Poh Pitu dan Mamrati Pura belum diketahui keberadaannya.

“Memang tidak mudah melacak peradaban Mataram kuno,” ungkap arkeolog Balai Arkeologi DIJ Nurhadi Rangkuti.

Menurutnya, kawasan perkotaan pada peradaban kuno biasanya berada di bagian tengah dan dikelilingi empat batas kota. Dikatakan, abad VIII hingga X merupakan era kepemimpinan Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu. Kendati demikian, temuan tersebut belum tentu identik dengan kompleks kerajaan.

“Bisa jadi permukiman warga biasa atau tempat peribadatan,” jelasnya. Soal artefak yang ditemukan di Balong Bayen, kata Nurhadi, tidak semuanya terpendam tanah. Batuan candi justru berada di permukaan tanah. Bahkan ada beberapa yang disimpan oleh warga setempat.

Titik terang adanya peradaban kuno pada empat potongan keramik. Pada era tersebut tidak semua kalangan bisa memiliki keramik. Benda ini tergolong sebagai penanda strata masyarakat kala itu. Pemilik keramik biasanya golongan bangsawan atau keturunan kerajaan. “Keramik berasal dari Tiongkok,” kata Nurhadi.

Keramik Tiongkok diperoleh pejabat kerajaan Mataram kuno dari hubungan ekonomi yang terjalin lewat jalur predagangan Dinasti Tang dan Dinasti Sung. Dinasti Tang dari abad VIII hingga X, sementara Dinasti Sung pada abad XI sampai XII. (dwi/yog)