GUNUNGKIDUL – Di tengah upaya Pemkab Gunungkidul serius mengontrol stabilitas harga dan distribusi tabung gas ukuran tiga kilogram di pasar, salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) justru berbuat seenaknya.

SPBU 4444.55814 yang terletak di Jalan Manthous, Playen yang notabene berstatus sebagai pangkalan menjual tabung gas melon di atas harga eceran tertinggi: Rp 15.500.

”Sejak Jumat (20/7) menjual dengan harga Rp 17.500 per tabung,” keluh Bayu Widodo, 49, seorang warga di sela menggelar aksi unjuk rasa di depan SPBU kemarin (23/7).

Ya, sejumlah warga sekitar kemarin memprotes kebijakan SPBU. Sebab, kebijakan menaikkan harga bukan kali ini saja. Sebelumnya, SPBU yang belum lama beroperasi itu mematok tabung gas subsidi dengan harga Rp 16.000. Menurutnya, kenaikan harga ini tanpa didahului sosialisasi. SPBU memutuskan secara sepihak.

”Pernah kami bertanya. Tapi jawabannya tidak mengenakkan, sehingga kami berdemo,” ketusnya.

Pertimbangan lain yang mendorong sejumlah warga menggelar aksi unjuk rasa lantaran beberapa pangkalan masih mematok harga normal. Karena itu, Bayu mendorong SPBU bersikap terbuka. Apa lagi, tabung gas melon diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga kurang mampu, sehingga rawan disalahgunakan.

Melihat ada unjuk rasa, manajemen SPBU akhirnya bersedia menemui sejumlah perwakilan warga. Ada beberapa keputusan dalam mediasi itu. Di antaranya, SPBU bakal menjual tabung gas dengan harga Rp 16.000. Hanya, harga ini hanya khusus untuk pengecer.

”Untuk pembeli umum Rp 15.500,” sebutnya.

Pengawas SPBU 14 Playen Islamudin Rahmanto saat ditemui usai mediasi membenarkan bahwa SPBU bakal mengembalikan harga jual seperti semula. Yakni, Rp 15.500 per tabung untuk konsumen umum. Sedangkan pengecer dipatok Rp 16.000.

Terkait keputusan sepihak yang didemo warga, Islamudin beralasan harga kulakan beli dari agen mengalami kenaikan. Dari itu, SPBU memasang dua harga. Rp 17.500 untuk pengecer. Sedangkan Rp 16.000 per tabung untuk warga. Itu pun dengan syarat pembeli harus membawa e-KTP.

”Kemudian pembelian dibatasi maksimal dua tabung,” dalihnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Distribusi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul Sigit Haryanto mengaku telah memantau kisruh sejumlah warga dengan SPBU. Dari hasil pemantauan ini diketahui bahwa kebijakan yang diambil SPBU keliru. Pangkalan dilarang memasang dua harga. Sekalipun di antaranya diperuntukkan bagi pengecer. Pangkalan harus menjual harga sesuai HET.

”Namun untuk penindakan nanti ada di Pertamina,” tegasnya. (gun/zam/mg1)