Suka Sejarah karena Kado Ultah, Cita-Cita Punya Museum

Siapa sangka seringnya diajak jalan-jalan ke museum dari kecil oleh orang tuanya, kini membuat jatuh cinta pada museum. Samantha Aditya Putri, 26, seperti menemukan dunia masa kecilnya. Menjadi Duta Museum Jogjakarta 2017 melengkapi itu semua.

RIZAL SN, Jogja

SeLAIN jalan-jalan ke museum, Sam, de-mikian dia biasa disapa, juga menyenangi sejarah. Hal itu bisa dirunut juga pada masa kecilnya. Sebab, setiap datang ulang tahunnya pada 27 Juni, orang tuanya tidak memberikan kado boneka atau mainan. Namun buku cerita rakyat dan dongeng-dongeng Nusantara. Se-belum tidur juga kerap dibacakan dongeng-dongeng cerita rakyat.

”Jadi kebawa gitu. Makanya mantap ketika ambil jurusan Ilmu Sejarah di UGM. Itu juga beasiswa full. Baru terjun di bidang museum ya pas masuk kuliah sejarah,” katanya kepada Radar Jogja (27/6).

Sam mengatakan, ilmu yang dipelajari mem-buat cara pandang terhadap museum sema-kin terbuka. Sehingga tidak pernah bosan kalau kunjungan dan membuat kegiatan di museum.

Menurutnya, sejarah tidak melulu dipelajari lewat text book atau kelas-kelas sekolah. Justru dia menilai, pembelajaran di luar kelas salah satunya berkunjung ke museum dan cagar budaya akan sangat menyenangkan. ”Koleksi itu bisa bercerita,” ujarnya.

Museum bagi Sam seperti rumah. Ada rasa memiliki dan ada tanggung jawab untuk mengajak masyarakat berkunjung ke museum. Namun dia mengakui jika interior dan pena-taan museum di Indonesia mayoritas masih konvensional.

Penyajian masih seadanya. Meskipun kolek-sinya sebenarnya bagus-bagus. ”Pengemasan juga penting. Orang bakal tertarik kalau kema-sannya bagus,” ungkapnya.

Begitu juga dengan museum di DIJ. Menu-rutnya, jika museum dianggap kurang asyik dikunjungi, kuno dan membosankan, itu ka-rena packaging-nya kurang bagus. Padahal jika ke luar negeri, museum banyak yang di-kunjungi

Karena itu dia menilai muse-um tidak boleh statis, tapi harus mengikuti perkembangan zaman. ”Nah sebagai duta museum saya ingin ngenalin lebih banyak ke masyarakat kalau museum itu me-nyenangkan. Dan bantu mewaca-nakan gerakan cinta museum,” tuturnya.

Menurut perempuan asal Sura-baya ini, setiap ke luar kota hal yang pertama masuk list kun-jungan adalah museum. Sebab jika tidak bisa keliling seluruh kota, tapi dengan berkunjung ke muse-umnya, seperti juga melihat per-kembangan kota itu dan peradab-an daerahnya.

Sudah berapa banyak museum yang dikunjungi? ”Wah banyak Mas. Sampai gak inget. Tapi yang paling berkesan sih Museum Tsunami Aceh. Sebenarnya kayak museum pada umumnya, tapi dia bisa bercerita. Kronologinya keren. Aku ke sana jadi nangis nginget kejadian dahsyatnya tsunami pada Desember 2004 itu,” ucapnya.

Saat ini, sebagai Runner-up 1 Duta Museum Jogjakarta 2017 dia ditempatkan di Museum Pang-lima Besar Jenderal Sudirman yang berada di kawasan Bintaran, Kota Jogja. Selain mengenalkan gerakan cinta museum, dia mem-punyai cita-cita suatu saat memi-liki museum sendiri.

”Sekarang era informasi dan digital. Tapi sejarah selalu relevan. Lewat media sosial saya sering banget update konten tentang museum dan cagar budaya dan nyebarin ke netizen. Paling tidak harus dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri,” katanya. (laz/ong)