TENANG: Pada musim kemarau air Curug Banyunibo tetap ada, namun debit airnya tidak terlalu besar. (JAUH HARI WAWAN SETIAWAN/RADAR JOGJA)

SUASANA ndeso yang kental dengan rimbunnya pepohonan dan udara sejuk, jauh dari keramaian dan bising kendaraan. Begitulah kesan pertama yang muncul ketika sampai di Curug Banyunibo. Berlokasi di Kecamatan Pajangan, Bantul.

Banyunibo dalam bahasa Indonesia berarti air yang jatuh. Memiliki ketinggian 10 meter. Airnya jernih dan segar membuat siapapun tergoda berenang. Curug ini memiliki kedalaman mencapai 2,5 meter dan terdapat dua kolam, alami dan dibuat oleh warga.

Tidak sulit menemukan lokasi curug ini. Wisatawan dapat mencari via aplikasi Google Map yang terdapat di ponsel pintar. Akses jalannya pun terbilang mudah dan hanya memerlukan waktu 45 menit dari pusat kota Jogja untuk mencapai lokasi parkir.

Selanjutnya berjalan kaki sejauh 100 meter sebelum mencapai lokasi curug. Namun untuk menuju curug disarankan agar wisatawan menggunakan sepeda motor karena jalan yang dilalui tidak terlalu lebar.

GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

Menurut penuturan Ngatinah, air dari curug tersebut berasal dari mata air dan tidak bergantung pada musim. “Musim kemarau airnya tetap ada namun debit airnya tidak terlalu besar,” jelas perempuan berusia 60 tahun itu.

Ngatinah yang petugas parkir curug itu menuturkan setiap hari Curug Banyunibo didatangi pengunjung walaupun jumlahnya tidak seramai saat liburan. Maka dia menyarankan untuk pengunjung yang ingin datang mencari suasana tenang agar datang di hari kerja.

Puas bermain air, wisatawan juga dapat menikmati sajian kelapa muda yang langsung dapat dipetik dari pohon. Memang lokasi air terjun ini banyak tumbuh subur pohon kelapa.

Wisata yang sudah buka sejak 2014 itu sampai saat ini masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat. Wisatawan yang berkunjung hanya dikenai biaya parkir sebesar Rp 2.000 saja. (cr4/iwa/mg1)