SLEMAN – Jumlah kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak di bawah umur atau remaja tergolong tinggi. Berdasarkan data Ditlantas Polda DI, setidaknya dari keseluruhan, 15 persen di antaranya melibatkan remaja.

Hal ini menjadi perhatian tersendiri di jajaran kepolisian. Guna menekan angka kecelakaan dan korban jiwa Ditlantas Polda DIJ akan menggelar Operasi Keselamatan Progo 2018. Fokus dari operasi ini adalah pelanggaran yang dilakukan oleh penggunan kendaraan. Salah satunya adalah batasan umur bagi pengendara kendaraan bermotor.

“Anak di bawah umur belum memiliki SIM sehingga memang perlu ditertibkan. Sesuai aturan seharusnya belum boleh beraktivitas di jalan raya menggunakan kendaraan bermotor,” tegas Kapolda DIJ Brigjend Pol Ahmad Dofiri Kamis (1/3).

Dia meminta orang tua ikut berperan aktif. Menurutnya, rata-rata kesalahan justru dilakukan oleh orang tua. Sebab, mereka memberikan akses kendaraan bermotor sejak usia dini.

“Alasan terbesar sebagai transportasi menuju sekolah. Saya memandang keputusan ini tidak tepat. Konsekuensi dari pilihan tersebut anak rawan menjadi korban kecelakaan lalu lintas,” ungkapnya.

Orang tua, menurutnya, wajib mengantar anak kes sekolah. Setidaknya bisa juga memanfaatkan fasilitas kendaraan umum.

“Orangtua mengeluhkan fasilitas kendaraan umum yang belum memadai. Topik ini sudah kami bahas dengan pemangku kebijakan daerah. Setidaknya ada solusi agar anak tidak berkendara sendiri ke sekolah,” ujarnya.

Dirlantas Polda DIJ Kombespol Latif Usman menambahkan, ada empat poin dalam operasi kali ini. Selain menyasar anak di bawah umur, juga kendaraan melawan arus, menggunakan gawai saat berkendara, dan berboncengan lebih dari satu pembonceng.

Operasi kali ini juga peningkatan dari tahun sebelumnya. Setidaknya akan ada tindakan penilangan bagi pelanggar. Upaya ini untuk menekan jumlah pelanggaran yang berdampak langsung pada angka kecelakaan.

“Jenis-jenis pelanggaran tersebut tersebut membahayakan bagi diri sendiri dan pengendara lainnya. Jangan sampai karena tidak patuh semua bisa jadi korban. Setidaknya tindakan preventif dapat menekan angka kecelakaan yang terjadi,” katanya.

Mengenai penindakan pengendara di bawah umur ada beberapa strategi. Selain operasi lapangan juga imbauan ke sekolah dan lingkungan sekitarnya. Dia tidak menampik banyak warga sekitar sekolah membuka penitipan kendaraan bermotor.

“Kalau menindak tegas pemilik penitipan parkir tidak bisa, hanya bisa dengan imbauan. Tapi jika anak tersebut tertangkap di jalan maka akan dikenakan sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya. (dwi/ila/mg1)