“Saya sinau (belajar) dari alumni yang kebetulan kuliah di Jurusan Sastra Jawa UGM. Belajarnya cuma sehari. Langsung ikut lomba dan bersyukur mendapatkan juara,” ungkap Gabriel Reka, sapaan akrabnya, di Pendapa Yayasan Notokusumo, kompleks Kepatihan Kadipaten Pakualaman, Minggu (28/1).

Lomba literasi aksara Jawa digelar Museum Puro Pakualaman. Kegiatan itu dalam rangka ulang tahun Kadipaten Pakualaman dan peringatan 36 tahun Museum Puro Pakualaman. Dalam lomba itu semua peserta lomba dan juri mengenakan busana Jawa gagrak (gaya) Surakarta dan Ngayogyakarta. Termasuk Reka yang memilih memakai busana surjan dan blangkon gagrak Jogja.

Reka merupakan siswa kelas XII SMA Kolese De Britto Jogja. Muatan lokal bahasa Jawa tidak lagi diajarkan di sekolahnya. Reka pun harus mengingat kembali materi aksara Jawa. Beruntung ada kakak kelasnya yang bersedia memberikan bimbingan.

Berbekal pengalamannya pernah menjadi juara Olimpiade Bahasa Jawa semasa di SMP Stella Duce 1 Jogja, Reka cepat menyesuaikan diri. Pelajar keturunan Jawa-Manado ini cukup terampil menuliskan kembali aksara ha na ca ra ka di atas kertas.

Dalam lomba itu, setiap peserta harus menulis cerita pendek (cerpen) satu halaman dengan memakai aksara Jawa. Lomba terbagi dalam dua kategori, pelajar dan umum. Untuk kategori pelajar, Reka meraih juara harapan I.

Reka yang piawai memainkan kendang itu menjadi satu-satunya pelajar pria yang menjadi pemenang. Lima juara lainnya adalah pelajar putri. Mereka adalah juara I Angeline Nindhita Bulan (SMAN 8 Jogja), juara II Sinta Kristiana Putri (SMAN 2 Bantul) dan juara III Hanny Adellia P (SMAN 2 Banguntapan, Bantul).

Harapan II Sofia Erna Wati (SMAN 1 Patuk, Gunungkidul) dan harapan III Puji Lestari (SMA Muhammadiyah Imogiri, Bantul). Sedangkan kategori umum berturut-turut juara I Nadia Vindy Amelia, juara II IR Hirawan Yuarno, juara III Sri Subarsidah dan harapan I RAy Erlina W.

Sukses yang diraih Reka itu juga mendapatkan atensi dari dosen Fakultas Budaya dan Sastra UNY Venny Indria Ekowati yang bertindak sebagai salah satu juri. Venny mendorong agar Reka ikut berpartisipasi dalam lomba literasi aksara Jawa yang digelar Museum Sonobudoyo, Dinas Kebudayaan DIJ, beberapa waktu ke depan. “Nanti ikut lagi ya,” ajak Venny yang disambut anggukan kepala oleh Reka.

Penghageng Museum Puro Pakualaman Gusti Kanjeng Raden Ayu (GKRAy) SM Anglingkusumo mengaku senang dengan banyaknya peserta. Itu menunjukkan minat anak muda mempelajari aksara Jawa masih lumayan tinggi. “Lihat saja antusiasme mereka mengikuti lomba literasi aksara Jawa ini,” katanya.

Semula panitia memrediksi paling banyak 50 orang. Di luar dugaan, jumlahnya membeludak menjadi 136 peserta. Sebagian besar dari peserta lomba literasi aksara Jawa itu anak-anak muda. Rata-rata usia mereka di bawah 25 tahun.

“Generasi now masih mencintai aksara Jawa. Mereka mampu menuliskan aksara Jawa dengan cepat. Minat yang tinggi harus dipupuk agar tidak layu dan terus berkembang,” harap permaisuri KGPAA Paku Alam IX Al Haj Anglingkusumo ini.

Selain lomba literasi aksara Jawa, Museum Puro Pakualaman juga mengadakan lomba busana Mataram pada 22 April 2018. Lomba ini untuk memeringati Hari Kartini. (laz/mg1)