RADARJOGJA.CO.ID – Komitmen Bupati Bantul Suharsono melestarikan dan melindungi pedagang pasar tradisional tak diragukan lagi. Ini dibuktikan dengan kebijakannya yang melakukan revitalisasi pasar tradisional di wilayah Kabupaten Bantul.

Jumat (31/3) Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X meresmikan empat pasar tradisional di Kabupaten Bantul yang selesai direnovasi. Ke-4 pasar tersebtu yaitu pasar tradisional Angkruksari, Pasar Ngipik, Pasar Pleret, dan Pasar Hewan di Pandak Bantul.

Gubernur DIJ HB X mengatakan, revitalisasi pasar tradisional tidak sebatas fisik saja namun pola manajemen pasar. Tujuannya agar pasar tradisional dapat memberikan pelayanan yang baik dan profesional sesuai keinginan masyarakat.

“Persaingan antara pasar tradisional sangat sengit. Hampir 31 persen per tahun pasar modern tumbuh pesat meninggalkan pasar tradisional. Bahkan menurut laporan Ikatan Pengelola Pasar, pasar tradisional 8,9 persen per tahun mengalami penurunan dan mati,” kata HB X.

Menurutnya, kondisi itu terjadi karena pengelolaan pasar tradisional yang tidak memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP). Masyarakat beralih belanja ke pasar modern karena belanja di pasar modern lebih nyaman, kebersihan terjamin dan tertata rapi serta kepastian harga. Namun demikian, kesalahan itu tidak serta merta pada manejemen pasar melainkan imbas dari perubahan interaksi sosial.

“Pasar tradisional kini tersisihkan oleh keberadaan pasar-pasar modern. Sehingga, pemerintah memberikan sokongan teknologi informasi (IT) agar pasar tradisional tetap ramai dikunjungi masyarakat. Salah satu pasar yang sudah menerapkan IT adalah Pasar Tradisional di Serpong Tangerang Selatan,” papar HB X.

Bupati Bantul Suharsono mengatakan, pasar tradisional merupakan pusat ekonomi rakyat. Keberpihakan pemerintah daerah kepada rakyat dibuktikan dengan pembangunan pasar tradisional dan perlindungan pedagang dari pemain ekonomi di skala global.

“Konsep perlindungan selalu di kedepankan kepada pelaku ekonomi rakyat dari tindakan marginalisasi ekonomi,” kata purnawirawan Polri ini.

Karena itu, Suharsono meminta kepada masyarakat Bantul agar tidak menjadi penonton saja akan tetapi ikut meramaikan keberadaan pusat ekonomi tersebut. “Penataan atau pengelolaan pasar tradisional harus mampu memikat pembeli, konsumen juga merasa betah berada di pasar,” jelas Suharsono. (mar)