SLEMAN- Kasus vandalisme tak lagi menyasar wilayah perkotaan. Di lingkungan pedesaan, aksi corat-coret sembarangan justru telah menyasar benda cagar budaya (BCB). Seperti tampak di Bok Renteng, sebutan untuk tembok pembatas saluran irigasi Van Der Wijck di Desa Banyurejo, Tempel.

Menurut Ketua Desa Budaya Banyurejo Giyatno, tak banyak yang tahu jika saluran Bok Renteng termasuk BCB yang telah dikukuhkan oleh gubernur DIJ. Namun, lepas dari persoalan tersebut, ulah tangan jahil tak bisa ditoleransi.

Siapa saja yang ketahuan mencorat-coret Bok Renteng diminta membersihkannya. “Ada coretan menyebut nama sekolah tertentu. Nah, kami undang siswa-siswa sekolah itu untuk membersihkan. Ini bentuk tanggung jawab,” ungkapnya disela kerja bakti mengecat ulang tembok Bok Renteng sepanjang sekitar 400 meter kemarin (6/2).

Ikatan Pemuda Tangisan, Banyurejo ikut terlibat dalam aksi sosial tersebut. Turut hadir Camat Tempel Wildan Solichin, Plt Kepala Dinas Kebudayaan Aji Wulantara, dan Ketua DPRD Sleman Haris Sugiharta. Ketiga pejabat itu juga terlibat dalam kerja bakti.

Dalam kesempatan itu Aji mengingatkan, ada konsekuensi hukum bagi pelaku vandalisme pada BCB. Itu termasuk pelanggaran UU No. 11/2010 tentang Cagar Budaya. “Bok Renteng dibangun pada zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1909. Dikukuhkan sebagai BCB oleh gubernur pada 2010,” jelasnya.

Sementara Haris Sugiharta apresiatif atas inisiatif warga membersihkan coretan di Bok Renteng. Untuk mendukung kegiatan warga, Haris mendorong dinas kebudayaan untuk mengalokasikan anggaran biaya perawatan BCB. “Mungkin bisa diambilkan dari dana keistimewaan (danais) mengingat Bok Renteng termasuk cagar budaya,” tutur politikus PDI Perjuangan itu.

Di bagian lain, Haris mengajak seluruh elemen masyarakat untuk nguri-uri warisan sejarah. Menurutnya, mengikis kebiasaan vandalisme termasuk bagian memelihara kearifan lokal. Haris juga meminta aparat keamanan lebih intensif berkomunikasi dengan siswa sekolah untuk menekan aksi vandalisme. “Sudah selayaknya anak muda mengapresiasikan diri dengan kegiatan positif dengan menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan,” tuturnya.

Sedangkan Fido Bayu, salah seorang anggota pemuda Tangisan mengungkapkan, pengecatan ulang Bok Renteng sudah dilakukan tiga kali. Diakuinya, setiap kali dibersihkan selalu muncul coretan tangan baru menggunakan cat semprot. “Ini butuh kesadaran bersama,” ujarnya.(yog/mg2)